AYOJAKARTA.COM -- Calon Presiden yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan Prabowo Subianto beberapa hari lalu menghadiri IISS Shangri-La Dialogue 2023 di Singapura.
Dalam pertemuannya dengan sejumlah menteri pertahanan, Prabowo Subianto juga sempat menyinggung soal perang Ukraina.
Di hadapan para peserta, Prabowo Subianto menyampaikan pandangan politik bangsa Indonesia yang bebas dan aktif.
Baca Juga: Hasil Survei SMRC: Elektabilitas Anies Baswedan Terus Menurun, Ganjar-Prabowo Lanjut Saling Salip
Selain mengaku ingin bersahabat dengan seluruh negara, Prabowo juga menyinggung keinginan kuat Indonesia untuk berperan menjaga kedamaian dunia.
Pernyataan Prabowo tersebut sempat menjadi sorotan karena derasnya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta.
Pertanyaan bermula dari usulan Prabowo selaku Menteri Pertahanan yang ingin mengakhiri konflik antara Rusia dan Ukraina.
Sejumlah perwakilan negara-negara peserta kemudian mempertanyakan sikap Presiden Indonesia terkait dengan persoalan di Myanmar.
Baca Juga: PAN Sodorkan Erick Thohir Sebagai Cawapres, Dampingi Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto?
Dalam perkembangannya, konflik di Ukraina terus berlangsung dan peran Uni Eropa justru menjadi pertanyaan dunia.
Meski dicecar dengan sederet pertanyaan dari negara Eropa, Prabowo justru mengajak para peserta untuk menelaah perjalan sejarah Indonesia.
Prabowo mengakui bahwa peperangan yang terjadi dimanapun tidak pernah membawa kebaikan dan kedamaian.
Adanya penilaian bahwa Indonesia melakukan penyetaraan terhadap sebuah konflik, Prabowo melakukan sanggahan.
“Kami pernah mengalami yang lebih mengerikan dari apa yang dialami Ukraina, berapa kali Indonesia mengalami invasi,” jelas Prabowo.
Dalam paparan jawabannya kepada para peserta, dengan tegas dan lantang Prabowo mengingatkan akan dampak dari sebuah perang.
“Kami menawarkan resolusi dari sebuah konflik, tidak melihat sisi mana yang benar atau salah, kami tahu peperangan!” ujar Prabowo.
Lebih lanjut Prabowo meminta agar para delegasi dari Eropa tidak berpikir secara jangka pendek terkait dengan sebuah konflik.
Baca Juga: PAN Usung Erick Thohir Jadi Cawapres, Siapa yang Dipilih antara Ganjar dan Prabowo?
“Jangan hanya berpikir 5 atau 10 tahun, pikirkan dalam 50 tahun kedepan,” imbuh Prabowo ketika menyampaikan tanggapan.
Di hadapan para delegasi Prabowo juga sempat menjabarkan sejumlah misi perdamaian yang sudah dilakukan Indonesia terkait komitmen menjaga kedamaian dunia.
“Indonesia telah bersiap dan berkontribusi sebagai pasukan perdamaian dibawah naungan penjaga perdamaian PBB,” jelas Prabowo.
Namun demikian usulan Prabowo terkait dengan tawaran resolusi konflik untuk perdamaian justru mendapat penolakan.
Atas penolakan tersebut, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi memberi keterangan saat mengadakan Raker dengan Komisi I DPR RI.
Pada kesempatan tersebut Menlu menjelaskan bahwa peran serta Indonesia masih belum berubah, yakni menjaga perdamaian dunia.
“Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa posisi pemerintah Indonesia tidak berubah,” ujar Menlu seperti dikutip Ayojakarta pada Selasa 6 Juni 2023 dari Youtube Kompas TV.***(Karseno AJ)

Share this article
Dalam pertemuannya dengan sejumlah menteri pertahanan, Prabowo Subianto juga sempat menyinggung soal perang Ukraina.