AYOJAKARTA.COM-- Indonesia Social Media Network (ISMN) bekerja sama dengan Bank OCBC dan Tempo Institute menyelenggarakan Workshop Penguatan Kompetensi Media Digital.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para pengelola atau kreator media digital untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas jejaring melalui materi yang aplikatif dan relevan dengan perkembangan industri media saat ini.
Acara yang berlangsung di Ballroom OCBC BSD, Tangerang Selatan ini dilaksanakan pada Senin, 27 Juli 2026 dengan dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari pengelola media digital, content creator dan komunitas media.

Dimana dengan tujuan meningkatkan kompetensi, para peserta mendapatkan materi mengenai "Literasi dan Edukasi Finansial Digital" dari Rudi Hamdani, Assisted Channel and Services Head OCBC.
Serta kelas jurnalistik dengan materi "Strategi Membangun Media Digital di Era Media Sosial" serta "Pelatihan Jurnalistik Digital dan Produksi Konten Kreatif" dari Tim Tempo Institute (Learning Center of Tempo Media Group) dengan pemateri Kepala Pengembangan Audiens Tempo, Fadhil Sofyan dan Penanggung Jawab Kanal Cek Fakta Tempo.co, Inge Klara serta Koordinator Pemeriksa Fakta Tempo.co, Ika Ningtyas.
CEO Tempo Digital dan Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika menjelaskan bahwa saat ini, konsumsi berita dan informasi masyarakat semakin bergeser ke media sosial. "Platform media sosial telah menjadi sumber utama bagi publik untuk memperoleh informasi," katanya.
Perubahan ini, lanjut dia, semakin terasa dalam setahun terakhir, terutama sejak hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI), termasuk fitur AI Overview dari Google dan berbagai layanan AI generatif. "Masyarakat kini cenderung memperoleh jawaban langsung dari AI tanpa lagi mengunjungi situs berita," katanya.

Dia memaparkan bahwa AMSI baru saja merilis riset mengenai dampak AI terhadap trafik media. Salah satu temuan utamanya menunjukkan bahwa dalam satu tahun terakhir kunjungan ke situs berita turun sekitar 40–70 persen di hampir seluruh media.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi tren global. Artinya, distribusi dan konsumsi informasi memang semakin bergeser ke media sosial.
Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai istilah yang tepat untuk menyebut para penerbit informasi berbasis media sosial. Ada yang menyebutnya new media, homeless media, news creator, hingga berbagai istilah lainnya.
"Pada dasarnya kita memahami kelompok yang dimaksud, tetapi hingga kini belum ada kesepakatan mengenai label yang paling tepat. Karena itu, saya berharap setelah forum ini, teman-teman dari Indonesia Social Media Network bersama berbagai asosiasi yang bergerak di bidang media dapat duduk bersama untuk merumuskan konsep dan istilah yang lebih tepat," ucapnya.
Menurut dia, Peran para publisher berbasis media sosial kini sangat besar dalam ekosistem informasi. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan identitas yang mampu menggambarkan perannya secara lebih akurat.
Di tengah derasnya arus informasi dan konten viral kredibilitas menjadi aset utama bagi media digital. Saatnya meningkatkan kapasitas memperkuat integritas dan membangun kepercayaan publik melalui praktik yang bertanggung jawab

Assisted Channel and Services Head OCBC, Rudi Hamdani menambahkan bahwa dengan derasnya arus informasi yang beredar, tantangan masyarakat saat ini bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana menyaring dan memverifikasi informasi yang diterima.
"Jika dahulu masyarakat menyampaikan pendapat melalui surat pembaca, kini setiap orang dapat menjadi penyebar informasi melalui media sosial maupun platform digital pribadi," katanya.
Bahkan, lanjut dia, seorang influencer dapat menjadi sumber informasi yang dipercaya, meskipun informasi yang disampaikan belum tentu benar dan berpotensi menyesatkan atau menjadi hoaks.
"Kemampuan memfilter informasi menjadi sangat penting, terutama untuk melindungi kondisi finansial masyarakat. Sebuah informasi yang tidak benar dapat memicu kepanikan massal dan berdampak pada perekonomian," katanya.

Sementara itu, Founder Indonesia Social Media Network (ISMN) Arif Budianto mengatakan, pihaknya mengapresiasi kepada Bank OCBC dan Tempo Institute atas kolaborasi yang menghadirkan pelatihan bagi para pengelola media digital di wilayah Jabodetabek.
"Dukungan dari OCBC ini menjadi langkah Bersama meningkatkan kapasitas new media digital, tidak hanya dari sisi produksi konten, tetapi juga pemahaman mengenai keuangan digital, memverifikasi informasi, serta upaya menangkal penyebaran hoaks di ruang digital," jelas Arif.
Dia menegaskan, ISMN berkomitmen untuk terus menjadi wadah pembelajaran dan kolaborasi bagi para pengelola homeless media atau publisher berbasis media sosial di Indonesia. Melalui berbagai program pelatihan bersama mitra strategis, ISMN ingin mendorong lahirnya kreator dan publisher digital yang tidak hanya kreatif dalam menghasilkan konten, tetapi juga memiliki kemampuan jurnalistik yang baik, menjunjung tinggi etika, akurat dalam menyampaikan informasi, serta mampu membangun kepercayaan publik di tengah derasnya arus informasi digital.
Share this article
Indonesia Social Media Network (ISMN) bekerja sama dengan Bank OCBC dan Tempo Institute menyelenggarakan Workshop Penguatan Kompetensi Media Digital.