AYOJAKARTA.COM - Buntut tewasnya seorang mahasiswi PPDS Prodi Anestesi Universitas Diponegoro (UNDIP) yang berinisial AR mengundang banyak komentar.
Sebagian menyatakan ia tewas akibat bunuh diri sesuai dengan temuan di buku hariannya, sementara Undip membantahnya.
Untuk menemukan penyebab pasti, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menurunkan tim untuk memeriksa kasus tersebut.
Baca Juga: WAJIB TAHU! Jangan Lakukan Hal Ini Terhadap Bendera NKRI, Kalau Tidak Mau Kena Pidana
Kemenkes bahkan memutuskan untuk memberhentikan sementara operasional program studi Anestesi di Fakultas Kedokteran Undip.
Keputusan ini diambil setelah seorang mahasiswa program dokter spesialis (PPDS) Undip meninggal dunia, yang diduga akibat perundungan.
Kemenkes mengungkapkan bahwa sejak tahun 2023 hingga 2024, mereka telah menerima tujuh laporan perundungan yang terjadi di lingkungan Fakultas Kedokteran Undip.
Dari tujuh laporan tersebut, empat di antaranya berasal dari program studi Anestesi. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyebut bahwa kasus perundungan ini sering kali terjadi di pendidikan kedokteran dengan alasan "membangun mental" para calon tenaga kesehatan.
“Kami sudah menerima banyak laporan terkait perundungan di pendidikan kedokteran. Ini bukan kali pertama terjadi, tetapi kali ini ada yang sampai merenggut nyawa. Karena itu, kami bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melakukan investigasi mendalam,” ujar Budi dalam keterangannya.
Baca Juga: PKS Tinggalkan Anies Baswedan Sendirian, PDIP Siap Maju? Ahok Tegaskan Hal Ini!
Ia menambahkan bahwa tim investigasi Kemenkes telah diterjunkan untuk menyelidiki penyebab kematian mahasiswa tersebut.
Lebih lanjut, Budi mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan buku catatan harian almarhumah yang mengindikasikan adanya tekanan dan intimidasi di lingkungan pendidikan.
“sementara karena begitu kita mau memeriksa semua murid-murid Junior ada sana diintimidasi tidak boleh bicara dan ini menurut saya tidak baik karena mereka masih berinteraksi di sana itu sebabnya kita berhentikan sementara supaya penyelidikan ini bisa dilakukan dengan cepat,” tegasnya.
Di sisi lain, pihak Universitas Diponegoro membantah tuduhan bahwa kematian mahasiswi tersebut disebabkan oleh perundungan.
Menurut hasil investigasi internal, kematian almarhumah lebih disebabkan oleh masalah kesehatan yang mempengaruhi proses belajarnya.
“Dari hasil investigasi kami, tidak ada indikasi perundungan. Almarhumah merupakan mahasiswi yang berdedikasi, namun memiliki masalah kesehatan yang mempengaruhi studinya. Bahkan, beliau sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri, tetapi urung dilakukan karena keterkaitan dengan beasiswa yang diterimanya,” jelas perwakilan Undip.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut, dan operasional program studi Anestesi FK Undip akan tetap dihentikan sementara hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai penyebab kematian tersebut.***
Share this article
Viral kasus bullying di lingkungan kesehatan, mahasiswa PPDS Anestesi UNDIP, Menkes Budi Gunadi buka suara, ada solusi?