AYOJAKARTA.COM – Pasangan calon (paslon) nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka unggul di peringkat atas hasil quick count atau perhitungan cepat suara Pemilu 2024.
Saat ini tercatat hanya 8 partai yang dapat masuk ke parlemen yang terbagi menjadi 4 partai dari Prabowo-Gibran dan 4 partai di luarnya.
Perolehan suara tersebut tentu menjadi misteri apakah bisa disambut baik atau tidak.
Pasalnya ada perbedaan selera antara pemilihan presiden dan pemilihan legislatif.
Baca Juga: Tes Kepribadian: Manakah Bunga Favoritmu? Pilihanmu Ungkap Bagaimana Sifatmu di Mata Orang Lain
Pengamat politik Rocky Gerung berharap partai-partai pengusung yang kalah dari Prabowo-Gibran bisa menjadi oposisi.
“Kita berharap seharusnya mereka yang kalah itu ambil posisi oposisi. Selalu ada jarak antara election dan decision, yang dipilih dan keputusan beda,” kata Rocky dikutip dari kanal YouTube Kompas TV, Jumat (16/2/2024).
Rocky Gerung menilai akan sulit jika PDIP beroposisi pada pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, seharusnya PDIP sudah mengambil posisi sebagai oposisi sejak awal.
“Kalau kita bilang PDIP beroposisi pada Jokowi bagaimana mungkin. Orang akan menganggap anda kan dulu sama saja kelakuannya. Kan yang kita sebut oposisi harus berbeda secara ideologi, itu dasarnya. Jadi bukan oposisi karena kalah. Mestinya dari awal sudah beroposisi secara ideologi. Kalau sekarang juga jadi percuma,” jelasnya.
Rocky Gerung menjelaskan apabila PDIP ingin menjadi oposisi maka seharusnya beroposisi bukan karena programnya.
Baca Juga: Dampak Bantuan Sosial Bagi Perekonomian Indonesia, Menyelamatkan atau Membahayakan?
Menurutnya salah satu yang harus dilakukan oleh PDIP jika ingin menjadi oposisi adalah memakzulkan Presiden Jokowi.
“Tetapi kalau memang ada niat untuk beroposisi lakukan sesuatu yang radikal dari awal. PDIP beroposisi pada Jokowi bukan karena programnya berbeda, programnya sama. Jadi apa yang musti dilakukan oleh PDIP sebagai benchmark untuk oposisi, ya makzulkan Jokowi,” jelasnya.
Seperti yang diketahui, masa jabatan Presiden Jokowi akan berakhir pada Oktober 2024 mendatang.
Menurut Rocky Gerung, pemakzulan Presiden Jokowi harus dilakukan untuk memberikan pelajaran moral.
“Tetapi mesti ada poin diberitahu oleh PDIP kami oppose Jokowi bukan karena kami berbeda program tapi karena melanggar konstitusi, itu dasarnya supaya ada pelajaran moral. Jadi pelajaran moral itu harus dibuat sekarang supaya Gen Z di 2029 itu tahu bahwa oh ini hukuman dari PDIP terhadap kadernya yang betul-betul memalukan,” tutupnya.***

Share this article
Pengamat politik Rocky Gerung berharap partai-partai pengusung yang kalah dari Prabowo-Gibran bisa menjadi oposisi.