AYOJAKARTA.COM – Quick count hasil dari pencoblosan, Rabu, 14 Februari 2024 sampai saat ini ramai diperbincangkan.
Baru-baru ini beredar sebuah gambar di TikTok @exalsaputra00 yang menunjukkan bahwa hasil quick count yang ditampilkan salah menyertakan waktu.
“Mainnya kurang rapi bro, coba tanggalnya dan waktunya,” tulis akun @exalputra00 disertai emoticon tertawa, yang diunggah Rabu, 14 Februari 2024.
Dalam gambar yang diunggah dari akun tersebut menunjukkan bahwa polling quick count menunjukkan waktu tanggal 13 Februari 2024.
Padahal seharusnya, waktu tersebut menunjukkan tanggal 14 Februari 2024, sesuai dengan tanggal pemilu dilaksanakan.
Hasil quick count tersebut memperlihatkan pasangan Prabowo – Gibran menempati angka 58,03%, Anies – Cak Imin 25,48%, dan Ganjar-Mahfud 16,49%.
Dengan adanya hal tersebut sontak mengundang banyak komentar dari pendukung masing-masing paslon.
Banyak yang menilai bahwa hasil tersebut telah direkayasa, dan menyindir salah satu paslon yang unggul.
“Mungkin bayarannya setengah-setengah jadi ngeditnya setengahnya juga,” komentar akun @myusronyusron4.
“13 Februari jam 12 udah 58 persen aja, kita di tps masih belum beres nyoblos pada siang datangnya karena hujan, di tv udah 58 persen aja ampun dah,” tulis akun @densisuhendi775.
“Karena buru-buru mau menang tu, jadi lupa tanggalnya,” komentar yang diberikan oleh akun @zulkifli_chan.
“Kalah terhormat soalnya percuma menang tapi dengan cara kotor rugi dong,” balas akun @ibnazahwa.
Meski begitu, banyak juga yang memberikan komentar untuk mendukung kemenangan paslon nomor 02, dan membenarkan hasil quick count tersebut.
“Di daerahku, 95 persen Prabowo. Paling unggul lu orang golput aja nyenggol,” tulis akun @dedi_asari21.
“Di kampung saya Buton secara keseluruhan 02 menang telak, saingannya Anies, Ganjar nyungsep,” balas @veryode80.
Komentar serupa pun disampaikan oleh akun @daeng_hendr4 “Daerah Sulawesi Tenggara belum pernah melihat 01 maupun 03 unggul dari 02 suara beda jauh,”.***

Share this article
Baru-baru ini beredar sebuah gambar di media sosial yang menunjukkan bahwa hasil quick count yang ditampilkan salah menyertakan waktu.