AYOJAKARTA.COM - Penyebaran nyamuk Wolbachia yang sempat menuai pro-kontra kembali menjadi sorotan sejumlah ahli dan masyarakat awam.
Program penyebaran nyamuk Wolbachia, awalnya digadang sebagai solusi mutakhir untuk bisa mengurangi angka kematian akibat demam berdarah dengue (DBD).
Sebagai salah satu negara dengan angka kematian DBD cukup tinggi, Indonesia kemudian menjadi salah satu lokasi penyebaran nyamuk Wolbachia.
Dengan menggandeng sejumlah vendor baik lokal maupun asing, program penyebaran nyamuk Wolbachia kemudian dilakukan.
Sehubungan dengan maraknya kembali wacana perihal nyamuk Wolbachia, dr Tifa yang merupakan ahli epidemiologis sempat memberi pernyataan.
Menurut dr Tifa, persoalan DBD dengan Wolbachia merupakan persoalan lawas yang seharusnya sudah mendapat kepastian dari pemerintah.
Baca Juga: Nyamuk Wolbachia Jadi 'Pilot Project' di 5 Kota, Benarkah Dapat Menekan Kasus DBD?
“Masyarakat perlu tahu bahwa sekarang ini yang namanya Wolbachia ini adalah proyek penelitian, bukan implementasi,” ungkapnya.
Nyamuk ber wolbachia, merupakan nyamuk yang sudah memiliki bakteri Wolbachia Pipientis yang hidup bersama dengan sejumlah serangga.
“Lima puluh persen serangga yang ada di seluruh dunia itu mengandung bakteri Wolbachia,” jelas dr Tifa dikutip dari kanal YouTube dr. Richard Lee MARS.
Lebih lanjut, dr Tifa menegaskan bahwa proyek penelitian Wolbachia merupakan penelitian skala besar yang melibatkan 13 negara selama 15 tahun.
Sejak proyek penelitian Wolbachia dilakukan, keikutsertaan Indonesia menurut dr. Tifa telah berlangsung selama 12 tahun.
Karena itu, dr Tifa mengaku ikut terkejut ketika mengetahui proses penelitian yang sudah berjalan belasan tahun tapi tidak diekspos ke publik.
Persoalan angka kematian yang terjadi dalam kasus DBD sejak 1968, menurut dr. Tifa tidak perlu disikapi dengan berlebihan sebagaimana penelitian Wolbachia.
“Sudah sangat terkontrol, case fatality rate-nya sudah sangat rendah, daerh endemis di Indonesia menunjukkan adanya penurunan kasus,” jelas dr Tifa.
Baca Juga: Jadi Polemik, Benarkah Gigitan Nyamuk Wolbachia Berbahaya? Berikut Penjelasan Guru Besar Unair
Dengan mengacu pada rendahnya tingkat kematian akibat DBD, dr Tifa menilai program-program pemerintah dalam menangani kasus DBD cukup berhasil.
Penyebaran nyamuk berwobachia, menurut dr Tifa memiliki kekurangan yang bisa berdampak secara jangka panjang.
Kendala yang terjadi tersebut, menurut dr Tifa disebabkan karena adanya potensi bagi nyamuk untuk terus berevolusi dan bertahan.
Injeksi yang dilakukan terhadap nyamuk DBD dengan bakteri Wolbachia, menurut dr. Tifa bisa mengubah karakter asli dari nyamuk.
Nyamuk betina yang terinfeksi Wolbachia akan berubah menjadi maskulin, dan nyamuk jantan berubah menjadi feminim.
“Nyamuk jantan yang terinfeksi Wolbachia tidak tertarik lagi dengan nyamuk betina dan sebaliknya, sehingga tidak punya keturunan,” jelas dr Tifa.***

Share this article
dr Tifa mengatakan persoalan DBD dengan Wolbachia merupakan persoalan lawas yang seharusnya sudah mendapat kepastian dari pemerintah.