AYOJAKARTA.COM – Banyaknya kasus bunuh diri dan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi beberapa waktu kebelakang, membuat berbagai pihak khawatir dan bertanya-tanya mengenai penyebab terjadinya kasus ini.
Pakar Komunikasi Keluarga dari Universitas Andalas, Ernita Arif, mengatakan banyaknya kasus KDRT dan bunuh diri salah satunya disebabkan oleh lemahnya komunikasi dalam keluarga.
Komunikasi yang kurang baik, menyebabkan permasalahan anggota keluarga tidak dapat tersampaikan dengan jelas.
Hal inilah yang kemudian dapat menimbulkan perilaku kekerasan, aksi bunuh diri hingga tega membunuh anggota keluarga yang lain.
Baca Juga: Anies Baswedan Komitmen Tegakkan Hukum, Cerita Korban KDRT Mega Suryani di Panggung Debat
“Memang yang paling sering memicu itu adalah masalah ekonomi. Tapi tentu juga ada peran komunikasi keluarga di sini yang lemah atau tidak berjalan dengan baik. Antara orang tua dengan anak, antara suami dengan istri, kakak dengan adik,” ucap Ernita, dikutip dari Republika, Sabtu, 16 Desember 2023.
Ernita menyampaikan, komunikasi yang lemah akan berdampak tidak adanya ruang untuk menyalurkan ekspresi dan emosi secara sehat.
Emosi yang tidak dapat tersalurkan tersebut, akan menyebabkan anggota keluarga sulit untuk saling memahami dan berakibat pada penumpukan emosi, sehingga bisa menimbulkan ledakan emosi.
Kata dia, emosi yang kurang baik juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman sehingga sering timbul masalah atau masalah yang tidak terselesaikan.
Baca Juga: Kaleidoskop 2023: Deretan Perceraian Artis Terheboh, Mulai dari Perselingkuhan Hingga KDRT
Apabila kesalahpahaman tersebut dibiarkan, lanjutnya, maka dapat menimbulkan situasi yang lebih serius, seperti kekerasan.
Kemudian, dampak dari lemahnya komunikasi adalah adanya anggota keluarga yang merasa terabaikan atau tidak diperhatikan.
Karena ia tidak mendapatkan perhatian, maka dirinya akan mencoba melakukan berbagai tindakan untuk mendapatkannya, seperti kekerasan.
“Untuk itu ciptakan komunikasi yang hangat dalam keluarga dengan menghargai perasaan, saling terbuka, mendengarkan dengan penuh perhatian, saling mendukung, mengungkapkan cinta dan kasih sayang sehingga dapat membangun dasar yang kuat untuk kebahagiaan dan keharmonisan jangka panjang,” ujar Ernita.
Baca Juga: Kondisi Kesehatan Mental Dokter Qory, Pasca KDRT yang Dilakukan Suaminya
Komunikasi dalam keluarga tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga meliputi ekspresi wajah, dan gestur tubuh yang menunjukan kasih sayang, kepedulian, perhatian, dan dukungan.
“Tentunya hal tersebut diperlukan kesadaran, pemahaman, empati serta rasa keamanan dan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga,” ucapnya.***
Share this article
Pakar Komunikasi Keluarga mengatakan banyaknya kasus KDRT dan bunuh diri salah satunya disebabkan oleh lemahnya komunikasi.