AYOJAKARTA.COM - Sohibul Iman, Wakil Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menyampaikan keprihatinannya terhadap dinamika persaingan politik menjelang pesta demokrasi lima tahunan.
Iman menyoroti tren saat ini yang lebih memprioritaskan gimik daripada adu gagasan konstruktif.
Dalam pidatonya di acara Kick Off Kampanye Nasional PKS di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Iman menyindir pasangan calon yang cenderung mengedepankan strategi gemik dan santuy.
Baca Juga: Prihatin dengan Persaingan dalam Pilpres Kali Ini, PKS: Banyak Gimiknya, Ada Gemoy dan Santuy
"Saya sangat prihatin, untuk memenangkan demokrasi, persaingan demokrasi ini sekarang lebih banyak gimiknya. Sekarang ada istilah gemoy, santuy seakan-akan yang bisa memimpin negeri ini adalah mereka yang gemoy," ujar Sohibul Iman, dikutip dari suara.com, Senin 27 NOvember 2023.
Iman menegaskan bahwa persaingan politik yang didasarkan pada gimik dan istilah-istilah yang kurang jelas seperti "gemoy" dan "santuy" merupakan hal yang tidak sehat bagi dinamika demokrasi.
"Gemoy atau gemoy saya nggak tahu juga itu, Bib apa Bib? Gemoy apa gemoy? Gemoy atau santuy ini tentu sesuatu yang tidak sehat," tambahnya.
Baca Juga: Mantan Wakil Kepala Kepolisian RI Buka Suara Soal Kasus Jessica Wongso: Silahkan Dibuka Kembali!
Sebelumnya, Presiden PKS Ahmad Syaikhu meluncurkan program kampanye dengan tagline "Pangan Murah, Kerja Gampang, Sehat Mudah." Program ini diklaim bertujuan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
"Gagasan yang akan diperjuangkan oleh PKS menyangkut keadilan dan kesejahteraan masyarakat, yaitu soal keterjangkauan harga dan ketersediaan kebutuhan pokok atau pangan," ungkap Syaikhu.
Dia juga menekankan pentingnya ketersediaan lapangan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan angkatan kerja baru, serta layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Baca Juga: Putus Akses Sebagai Pimpinan, KPK Tetap Memperbolehkan Firli Bahuri ke Kantor
Asal Usul Istilah Prabowo Gemoy
Calon presiden Prabowo Subianto mengungkapkan asal usul dari tarian yang kerap disebut oleh publik sebagai goyang gemoy. Tarian tersebut ternyata terinspirasi dari sang kakek dan ayahnya.
Dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan pada Senin, 20 November 2023, Prabowo menceritakan bahwa sewaktu kecil dirinya kerap melihat sang kakek menari bak wayang.
"Ini buka rahasia kalau begitu ya. Jadi begini, ini cerita yang sebenarnya. Jadi di keluarga saya, kakek saya Pak Margono kan orang Jawa dari Banyumas, zaman itu ya tidak ada hiburan kecuali wayang," terang Prabowo
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Kolom Letusan Mencapai 450 Meter
"Jadi setiap kali saya ke rumah eyang saya, saya disambut dengan tarian kayak begitu dari kecil. Yang menari eyang saya, dia sambut saya, selalu begitu," lanjutnya sambil menyenandungkan nyanyian Gatotkaca pangeran dari Pringgodani.
Lebih lanjut, sosok Menteri Pertahanan ini juga membeberkan jika ayahnya juga sering kali melakukan tarian tersebut.
"Kemudian bapak saya Pak Sumitro, dia kan juga istilahnya orang Banyumas, zaman itu enggak ada televisi enggak ada apa-apa, ya hiburannya wayang. Jadi setiap kali ada berita bagus, dia selalu joget seperti itu," beber Prabowo.
Baca Juga: OC Kaligis: Vonis Hakim Terhadap Jessica Wongso Tidak Berdasarkan Saksi!
Lantaran sering melihat kakek dan ayahnya menari, hal tersebut lantas masuk ke memorinya hingga sekarang ini. Sehingga saat sedang merasa senang, Prabowo Subianto spontan melakukan goyangan gemoy.
"Jadi itu mungkin masuk ke bawah sadar saya, kalau saya gembira pasti begitu," ucap Prabowo.
"Itu di bawah sadar saya setiap kali gembira. Tapi kalau enggak gembira ya enggak gitu," pungkasnya.
Prabowo Subianto mengaku tidak menyangka bahwa goyangan gemoy yang dilakukannya menjadi viral di media sosial. Ia pun berharap agar masyarakat tidak salah paham dengan tarian tersebut.
"Saya tidak bermaksud untuk menari, tetapi itu spontan saja. Saya berharap masyarakat tidak salah paham," kata Prabowo.

Share this article
Tren politik yang lebih mengedepankan gimik dikritik. PKS menyebut persaingan demokrasi kebanyakan berbasis istilah "gemoy" dan "santuy".