AYOJAKARTA.COM - Pasangan capres-cawapres nomor urut dua, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming masih terus menjadi sorotan publik.
Selain karena jarang menemui pendukungnya secara langsung, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming juga disorot lantaran sering absen dalam banyak undangan.
Karena itu publik menganggap, duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming tidak punya gagasan lain kecuali makan siang dan gimmick dengan cara berjoget.
Baca Juga: Wajib Pajak Harus Tahu! Ini Cara Memadankan NIK Jadi NPWP, Gampang Banget
Menurut Pengamat Politik Hendri Satrio, minimnya kehadiran Prabowo-Gibran di tengah pendukung karena untuk menghindari blunder.
“Menurut saya, pasangan Prabowo-Gibran itu menghindari blunder, karena ada beberapa pertanyaan yang tidak sanggup dijawab,” ungkap Hensat.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh sosok yang kerap disapa Hensat saat menjadi narasumber di siniar Abraham Samad Speak Up.
Lebih lanjut, Hensat menganggap minimnya interaksi yang dilakukan pasangan nomor urut dua tersebut bisa disalah-artikan.
“Apakah mereka beranggapan bertemu dengan rakyat itu tidak penting, karena yang penting hanya suaranya? Kalau seperti itu, rakyat dikecilkan berarti,” jelasnya.
Karena itu, Hensat berharap agar waktu kampanye yang hanya diberi waktu selama 75 hari bisa dimaksimalkan untuk menyerap aspirasi publik.
Sehubungan dengan adanya anggapan yang menyebut minimnya interaksi Prabowo-Gibran karena banyaknya dukungan partai, Hensat memberi tanggapan.
Menurut Hendri, komposisi dukungan partai terhadap perolehan electoral tidak selalu berbanding lurus dengan hasil pemilihan.
Selain karena pemilih Indonesia semakin cerdas dalam menentukan pilihan, rakyat Indonesia juga butuh pemimpin berkarakter.
Sehingga yang didapatkan oleh pemilih bukan sebatas rangkuman gagasan dalam bentuk kertas, melainkan aktualisasi tindakan.
“Kalau kemudian pasangan ini tidak menggunakan waktu berkampanye untuk bertemu rakyat, artinya mungkin meragukan kecerdasan rakyat Indonesia,” jelas Hendri.
Dengan banyaknya gimmick politik serta spanduk-spanduk lucu dan jargon gemoy, menurut Hensat belum tentu menjamin kemenangan.
Sehingga adanya anggapan yang menyebut bahwa pasangan Prabowo-Gibran bisa menang dalam satu putaran, merupakan sebatas impian.
Baca Juga: 5 Jenis Self Care yang Bisa Merusak Mental, Toxic Positivity Salah Satunya, Apa Itu?
Hendri menambahkan, masa kampanye merupakan momentum paling tepat untuk bisa bertemu dengan masyarakat.
Minimnya interaksi yang dilakukan capres-cawapres Prabowo-Gibran dengan masyarakat, dicurigai Hensat karena dua sebab.
Selain karena mencoba menghindari blunder, minimnya interaksi di masa kampanye karena kepercayaan diri yang terlalu tinggi karena dukungan parpol koalisi.
Adapun penyebab lain minimnya interaksi duet Prabowo-Gibran dengan pemilih, menurut Hensat karena faktor kesehatan Prabowo dan wawasan pengalaman Gibran.
“Kecurigaan saya, mereka percaya diri yakin pasti menang, kedua menghindari blunder baik kesehatan Pak Prabowo maupun salah ucapnya Anak Presiden,” ungkap Hensat. ***

Share this article
Menurut Pengamat Politik Hendri Satrio, minimnya kehadiran Prabowo-Gibran di tengah pendukung karena untuk menghindari blunder.