AYOJAKARTA.COM – Memasuki tahap perhitungan suara, dugaan terjadinya kecurangan pemilu yang dilakukan secara masif dan terstruktur kian terdengar.
Banyaknya perbedaan hasil perhitungan yang terjadi di seluruh provinsi, mengindikasikan potensi kecurangan pemilu sebagaimana dalam film Dirty Vote benar-benar terjadi.
Fakta-fakta dalam film, merupakan proses panjang dari sebuah upaya kecurangan pemilu yang dilakukan secara terstruktur, sistematis dan melibatkan banyak pihak.
Pernyataan terkait indikasi kecurangan pemilu tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pakar Timnas Amin, Hamdan Zoelva.
Menyikapi fenomena banyak perbedaan hasil perhitungan suara tersebut, Timnas Amin akan mengumpulkan bukti-bukti penguat.
“Kami sekarang ini sedang mengumpulkan bukti-bukti yang terkait dengan pelanggaran-pelanggaran yang sistematis, terstruktur dan masif,” ungkap Hamdan.
Baca Juga: Ganjar-Mahfud Kalahkan Prabowo-Gibran dalam Penghitungan Suara di KBRI Berlin Jerman, Berapa Suara?
Terkait dengan gejala dan indikasi tidak jujurnya pemilu 2024, kecurangan pemilu sudah mulai terlihat di permukaan.
Karena itulah, Timnas Hukum pasangan Amin perlu melakukan pengumpulan bukti terkait dengan potensi kecurangan tersebut.
“Implementasi dari desain itu mulai nampak satu-persatu dan ini sedang kami kumpulkan di seluruh Indonesia,” jelas Hamadan.
Selain Timnas dari pasangan Amin, Tim Pemenangan Nasional pasangan Ganjar-Mahfud juga siap melakukan upaya hukum.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada awak media, Hasto Kristiyanto selaku Sekjen PDIP mengaku telah mempersiapkan tim khusus.
Tim yang terdiri dari para Ahli Hukum, Pakai IT, dan Ahli Demografi akan melakukan pengungkapan terkait dengan bukti-bukti material ditemukan.
Langkah tersebut menurut Hasto ditempuh sebagai bagian dari upaya mengungkap kecurang pemilu yang sistematis, terstruktur dan masif.
“Agar yang menjadi ketentuan pelanggaran secara terstruktur, masif dan sistematis dapat terungkap,” jelas Hasto.
Keinginan untuk mengungkap hasil pemungutan suara yang diduga melibatkan kekuasaan terjadi karena adanya penggelembungan hasil perhitungan suara.
Sebagaimana menjadi pengetahuan publik, hasil perhitungan formulir dengan sistem Sirekap di sejumlah wilayah banyak mengalami perbedaan.
Perbedaan hasil perhitungan formulir dengan sistem Sirekap, terjadi lebih di sebanyak 2000 TPS di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Tes Kepribadian: Lihat Bebek atau Tupai dalam Waktu 3 Detik! Kamu yang mana? Cek Jawaban di sini
Terkait dengan adanya perbedaan hasil perhitungan dari sistem Sirekap tersebut, Ketua KPU telah memberikan penjelasan.
Ketua KPU Hasyim Asy'ari mengaku, metode perhitungan antara sistem Sirekap dengan formulir memang memiliki perbedaan.
Menurut Hasyim, hal tersebut terjadi karena sistem Sirekap mampu mengenali adanya kesalahan sehingga hasilnya tidak tepat.
“Sistem Sirekap mengenali kalau ada salah hitung atau salah konversi, sehingga konsekuensinya dalam konversi menjadi tidak tepat,” jelasnya.
Menyikapi adanya dugaan pelanggaran pemilu, Presiden Joko Widodo mempersilahkan untuk mengikuti mekanisme yang tersedia.

Share this article
Memasuki tahap perhitungan suara, dugaan terjadinya kecurangan pemilu yang dilakukan secara masif dan terstruktur kian terdengar.