AYOJAKARTA.COM - Wacana koalisi antara PDI Perjuangan (PDIP) dan PKB untuk mendukung Anies Baswedan di Pilgub DKI Jakarta 2024 mencuat, yang membuat Anies merasa terhormat.
Rencana koalisi ini diungkap oleh Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, yang mengaku telah berbicara dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) terkait Pilkada Jakarta.
Menurutnya, ada kemungkinan PDIP bekerja sama dengan PKB di Pilkada Jakarta.
Sementara itu, PKS secara resmi mengumumkan dukungan mereka untuk pasangan Anies Baswedan-Sohibul Iman sebagai bakal calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) di Pilkada Jakarta.
Ketika ditanya seberapa besar potensi koalisi PDIP PKS PKB di Pilgub DKI Jakarta bisa terbentuk, Pakar Politik, Burhanuddin M mengatakan untuk koalisi PDIP dan PKB mudah untuk terbentuk namun berbeda dengan PKS.
“Mungkin relatif lebih mudah buat terjalinya koalisi antara PDI perjuangan dengan PKB ya. PKS sampai sekarang masih mematok harga mati” ucap Pakar Politik Burhanuddin M, dikutip dari YouTube tvOneNews, pada Senin, 8 Juli 2024.
Ia mengatakan PKS menerapkan harga mati bahwa Anies Baswedan harus masuk PKS, jika tidak bersedia masuk maka calon wakil gubernur akan menjadi pendamping Anies Baswedan harus dari kader PKS.
“Harga mati yang dia patok satu Anies harus masuk PKS, kalau Anies tidak bersedia masuk PKS, maka calon wakil gubernur yang akan dipinang oleh Anies harus dari kader PKS yaitu Sohibul Iman” ucapnya.
Burhanuddin menyampaikan pandangan semacam itu bisa menyulitkan Anies Baswedan sendiri karena elektoral Anies tidak cukup meskipun Anies masih menduduki peringkat pertama survei.
Pakar Politik tersebut juga menyebutkan indikasi yang menyebabkan hal tersebut adalah terlihat pada kemenangan Anies di Pilkada 2017.
“Nah pandangan semacam ini jelas menyulitkan buat Mas Anies untuk memperbesar bajunya karena secara elektoral jangan lupa Anies Baswedan tidak cukup kuat meskipun peringkat surveinya masih di ranking pertama” katanya.
Baca Juga: Tes Kepribadian: Lihat Burung atau Bebek? Ketahui Otak Paling Aktif Kamu, Otak Kanan atau Otak Kiri?
“Apa indikasinya? indikasinya kemenangan di waktu Pilkada terakhir itu hanya bersandar terutama di tiga wilayah Jakarta Timur, Selatan dan pusat. Sementara Jakarta Barat dan Jakarta Utara beliau masih kemarau elektoral dan itu dipertegas oleh hasil Pilpres 2024 meskipun Anis Baswedan approval ratingnya tinggi sebagai gubernur tetapi secara Absolut Anis Baswedan kalah di Jakarta” lanjutnya.
“Dan kekalahan itu di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang kebetulan PDI perjuangan cukup kuat di sana” kata Burhanuddin.
Burhanuddin menyampaikan jika Anies bergandengan dengan calon dari PKS secara elektoral tidak memperbesar basis elektoral untuk Anies Baswedan sendiri. Oleh karena itu, PKB dan PDI Perjuangan bisa mencari sosok yang cocok untuk kemenangan Anies Baswedan.
“Jadi kalau misalnya Anies bergandengan dengan calon dari PKS secara elektoral memang tidak memperbesar basis atau pangsa elektoral buat Anies, nah di situ menjadi pintu masuk buat PKB atau perjuangan untuk mencari sosok lain yang dianggap lebih tepat buat Anies untuk memenangkan pertarungan” ujarnya.
Namun, pertanyaannya apakah PKS bisa menerima hal tersebut, Burhanuddin mengatakan sampai saat ini PKS masih menerapkan harga mati yakni memasangkan Anies dengan Sohibul Iman.
Pakar Politik mengatakan jika hal tersebut terjadi kemungkinan PKS tidak ikut dalam koalisi PDIP dan PKB.
“Tetapi pertanyaannya apakah itu bisa diterima oleh PKS? per hari ini PKS masih memasang harga mati yaitu Sohibul Iman sebagai calon ya wakil Anies, dan kalau itu terjadi kemungkinan PKS tidak bisa ikut dalam rombongan koalisi PDIP dengan PKB tetapi secara nominasi itu sudah lebih dari cukup, PDI perjuangan dengan PKB cukup ya untuk mengusung Anies” ucapnya.
“Dengan asumsi PDI perjuangan tidak mencalonkan kadernya sebagai orang nomor tapi mungkin saja mengendorse kader atau orang yang dianggap dekat dengan PDI perjuangan sebagai pendamping Anies” tutupnya.***

Share this article
Wacana koalisi antara PDI Perjuangan (PDIP) dan PKB untuk mendukung Anies Baswedan di Pilgub DKI Jakarta 2024 mencuat.