AYOJAKARTA.COM - Sesar Garut Selatan (Garsela) kembali mencuri perhatian sebagai salah satu zona sesar paling aktif di Pulau Jawa.
Informasi ini disampaikan oleh Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, melalui akun X-nya.
Menurut Daryono, zona ini merupakan wilayah deformasi yang luas, terdiri dari berbagai segmen sesar.
Aktivitas seismik yang terlokalisasi di kawasan ini memperlihatkan sebaran gempa yang cukup luas, menegaskan bahwa Garsela adalah pusat kegempaan yang aktif.
Pernyataan Daryono ini muncul setelah gempa berkekuatan 4,9 magnitudo mengguncang Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada pagi hari.
Gempa tersebut terjadi pada pukul 09.41 WIB, dengan episentrum di darat, tepatnya 25 kilometer tenggara Kabupaten Bandung, pada kedalaman 10 kilometer.
Berdasarkan data BMKG, gempa ini tergolong sebagai gempa dangkal (shallow crustal earthquake), yang sering kali menyebabkan guncangan lebih kuat di permukaan.
Baca Juga: Mengapa Banyak PKH atau BPNT Belum Cair, Sementara di Daerah Lain Sudah? Ternyata Ini Penyebabnya
BMKG juga melaporkan bahwa hingga pagi ini, telah terjadi 33 kali gempa susulan di zona Sesar Garut Selatan.
Magnitudo terbesar dari gempa susulan ini tercatat mencapai 3,5, sementara yang terkecil hanya 1,2.
Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa gempa utama di Kabupaten Bandung dipicu oleh aktivitas sesar di Garsela.
Daryono menyatakan dengan tegas, "Apakah gempa kemarin dipicu oleh Sesar Garsela? Definitely, YES!"
Guncangan akibat gempa ini dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah, terutama di Majalaya dengan skala intensitas III-IV MMI.
Di wilayah lain seperti Banjaran, Lembang, Parongpong, dan Garut, intensitas guncangan bervariasi antara II hingga III MMI.
Dampak dari gempa tersebut tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, terutama di wilayah Kabupaten Bandung.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis pada Rabu (18/9), gempa ini mengakibatkan 81 orang terluka, dengan 23 orang mengalami luka berat di Kabupaten Bandung, dan 1 orang terluka di Kabupaten Garut.
Selain itu, sebanyak 491 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Bandung dan 209 KK di Kabupaten Garut terdampak oleh gempa ini.
Sebanyak 450 jiwa di Kabupaten Bandung juga dilaporkan mengungsi ke tempat aman, dengan sebagian besar terkonsentrasi di Kantor Camat Kertasari.
Wilayah-wilayah lain yang terkena dampak signifikan meliputi Kecamatan Pangalengan, Ibun, Pacet, Arjasari, dan Pameungpeuk.
Sementara itu, di Kabupaten Garut, kecamatan yang merasakan guncangan gempa termasuk Pasirwangi, Tarogong Kaler, dan Sukaresmi.
Dari segi infrastruktur, 491 unit rumah di Kabupaten Bandung dan 209 unit di Kabupaten Garut dilaporkan mengalami kerusakan.
Selain itu, fasilitas umum seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tempat ibadah juga terdampak.
Di Kabupaten Bandung, 5 fasilitas kesehatan dan 27 tempat ibadah mengalami kerusakan, sedangkan di Garut, 7 sarana pendidikan dan 5 fasilitas ibadah terdampak.
Zona Sesar Garut Selatan kini menjadi perhatian utama dalam studi kegempaan di Pulau Jawa.
Aktivitas yang intens di zona ini memicu kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan yang lebih besar di masa mendatang.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik di wilayah tersebut, dan masyarakat diimbau untuk tetap waspada serta mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Share this article
Pernyataan Daryono ini muncul setelah gempa berkekuatan 4,9 magnitudo mengguncang Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada pagi hari.