AYOJAKARTA.COM - Guna mengantisipasi puncak arus balik mudik yang diprediksi terjadi sejak tanggal 5 hingga 7 April, Kakorlantas Polri telah menyiapkan sejumlah skenario.
Dalam keterangan resminya, Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyebut skenario menghadapi arus balik mudik akan berkaitan dengan regulasi jalur kendaraan.
Selain memberi imbauan Ganjil-Genap dan pemberlakuan Contra Flow, antisipasi arus balik mudik juga dilakukan dengan menerapkan sistem satu arah.
Sejumlah kesiapan demi memperlancar arus balik mudik, menurut Kakorlantas telah disiapkan dan siaga untuk difungsikan kapanpun.
Meski demikian, Irjen Pol. Agus memastikan seluruh proses penentuan kebijakan menyangkut arus balik mudik akan dilakukan dengan melihat berbagai pertimbangan.
“Dalam membuat skenario dan cara bertindak seperti contra flow, itu ada rumusnya, ada traffic counting yang bisa kita lihat di radar,” jelas Kakorlantas.
Lebih lanjut Irjen Pol. Agus menegaskan bahwa Operasi Ketupat yang merupakan kebijakan Polri dalam menghadapi Idul Fitri, bukan semata menyangkut Kamtibmas.
Operasi Ketupat, menurut Kakorlantas juga meliputi Keamanan, Keselamatan, Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas atau Kamseltibcarlantas.
Mengacu pada kedua aspek fungsi tersebut, Kakorlantas memastikan ruang lingkup sasaran Operasi Ketupat bukan hanya di jalan tetapi juga mencakup lingkungan masyarakat.
Mengingat berbagai penanganan keamanan di tingkat lingkungan relatif terkendali, arus balik mudik saat ini tengah dalam penanganan Polri.
Dengan personil Polri yang tersebar di banyak titik, Kakorlantas blang saat ini akan lebih memfokuskan penanganan arus mudik dari seluruh wilayah trans Jawa serta Sumatera.
Sehubungan dengan puncak arus balik mudik yang diprediksi akan terjadi hingga 7 April mendatang, Yayat Supriatna selaku Pengamat Transportasi memberi tanggapan.
Berbeda dengan arus mudik yang banyak dilakukan pada malam hari hingga usai sahur, arus balik mudik lebih sukar diprediksi.
Selain dapat dilakukan pada pagi hingga sore hari, Yayat melihat tidak sedikit pemudik yang justru memilih untuk kembali ke Jakarta pada malam hari.
Menghadapi kondisi tersebut, Yayat menilai kendala terbesar Polri menyangkut potensi lonjakan arus mudik adalah mengelola debit kendaraan di sepanjang tujuan.
Perbatasan kota seperti Cirebon, Bandung, Bogor atau Purwakarta, menurut Yayat perlu mendapat perhatian ekstra.
Semakin lancar arus lalin di kawasan-kawasan yang menjadi pusat perbatasan wilayah, jalur mudik akan lebih mudah ditangani.
Baca Juga: 7 Manfaat Puasa Syawal, Pahala Berlimpah hingga Kesehatan Tubuh yang Jarang Diperhatikan
Disamping memastikan kelancaran arus lalin di kawasan perbatasan, hal penting yang juga wajib dipertimbangkan adalah durasi saat berada di gerbang tol.
“Sistem pembayaran e toll, ini menjadi catatan penting supaya antrian tidak mendatangkan mental turbulensi atau kelelahan mental karena perjalanan,” jelasnya.

Share this article
Selain memberi imbauan Ganjil-Genap dan pemberlakuan Contra Flow, antisipasi arus balik mudik juga dengan menerapkan sistem satu arah.