AYOJAKARTA.COM - Rafael Alun Trisambodo mantan pejabat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat pasca kasus penganiayaan yang dilakukan anaknya, Mario Dandy.
Bukan hanya tindakan penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy saja, ternyata harta kekayaan Rafael Alun Trisambodo pun turut menjadi bulan-bulanan masyarakat.
Menurut informasi kekayaan Rafael Alun Trisambodo mencapai Rp56 miliar, hal ini seolah menimbulkan dugaan mungkin harta para pejabat itu berasal dari uang pajak rakyat.
Baca Juga: Update Kasus Penganiayaan David Ozora, Polisi Akan Jerat Mario Dandy dengan Pasal Terberat
Dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube tvOneNews, Yudi Purnomo selaku mantan Penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) membocorkan semua aib para pejabat koruptor.
Yudi Purnomo menjelaskan bahwa ada faktor yang menyebabkan para koruptor melakukan korupsi, salah satunya adalah kebutuhan.
"Saya ketika menjadi penyidik, menemukan bahwa mengapa mereka mengekspos kekayaan mereka? apakah mereka enggak takut nanti masyarakat akan curiga?," ujar Yudi Purnomo, mantan Penyidik KPK.
"Tidak, karena ketika orang korupsi, itu karena dua hal, yang pertama need, need itu kebutuhan," sambungnya.
Baca Juga: Wakil Ketua LPSK Ungkap Hak Seorang Justice Collaborator seperti Eliezer, dari Vonis Ringan hingga Remisi
Namun, Yudi Purnomo menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut bukankan kebutuhan primer melainkan kebutuhan tersier.
Artinya kebutuhan untuk memenuhi keinginan akan kemewahan yang umumnya hanya demi memuaskan rasa gengsi mereka.
"Kebutuhan ini bukan kebutuhan primer ya, buat makan, karena saya tidak pernah menemukan koruptor yang korupsi ketika dia miskin, atau untuk kebutuhan keluarga," jelas Yudi Purnomo.
"Tapi karena untuk kebutuhan yang tersier artinya mereka ingin supaya kebutuhannya, yang bergaya hidup mewah, dihormati orang, itu bisa dipenuhi dengan cara korupsi," sambungnya.
Selain itu, Yudi Purnomo menjelaskan faktor kedua yang menyebabkan mereka korupsi yaitu greed atau rakus.
Dalam hal ini yakni memuaskan keinginan akan barang atau kebutuhan yang terbilang mahal contohnya outfit dengan merk terkenal yang harganya capai miliaran.
"Yang kedua greed, rakus, sehingga mereka sebanyak-banyaknya korupsi, saya pernah mencoba menghitung berapa outfit dari tersangka yang saya tangani, mulai jam tangannya saja merk terkenal, sampai miliaran," ungkap Yudi Purnomo.
Itu dijelaskan baru harta kekayaan yang tampak di hadapan publik, belum lagi harta atau apapun itu hasil korupsi yang disembunyikan oleh koruptor.
Bahkan Yudi Purnomo membongkar, umumnya harta atau lainnya yang disembunyikan tersebut biasanya tidak diatasnamakan si koruptor.
"Bagaimana yang tidak tampak, dan kebanyakan mereka mencoba menyembunyikan hartanya bukan atas nama mereka, itu yang pertama," jelas Yudi Purnomo.
Terlebih lagi, ternyata oknum pejabat yang melakukan korupsi hanya akan melaporkan sedikit dari kekayaan mereka yang bisa dipertanggungjawabkan.
Artinya kemungkinan outfit miliaran tadi justru tidak dilaporkan kepada pihak Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang ditetapkan oleh KPK.
"Kemudian yang kedua, ketika mereka melapor kepada LHKPN itu adalah harta yang benar-benar bagi mereka, bisa mereka pertanggung jawabkan," ungkap Yudi Purnomo.
"(outfit miliaran tadi) bisa saja enggak dilaporkan," sambungnya.
Faktor lainnya juga dijelaskan bahwa seorang koruptor umumnya 'terbawa budaya' atau tuntutan gaya hidup seseorang yang mengemban jabatan penting.
Hal itu dilakukan hanya demi meraih eksistensi mereka dalam lingkup para pejabat dengan gaya hidup bergengsi.
"Mereka mencoba eksis dengan cara yang korup (korupsi), karena memang ada sebuah 'budaya' ketika dia menduduki jabatan misalnya Kabag harus mobilnya seperti ini, ketika dia seorang direktur harus seperti ini," ungkap Yudi Purnomo.
"Itulah komunitas mereka, karena korupsi itu enggak pernah sendirian, itulah eksistensi, ngapain mereka korup dengan resiko dipenjara kalau enggak ditampilkan (dipamerkan)," pungkasnya.***

Share this article
Yudi Purnomo menjelaskan bahwa beberapa ada faktor yang menyebabkan para koruptor melakukan korupsi. Apa saja?