AYOJAKARTA.COM--Salat adalah rukun islam kedua setelah syahadat yang wajib ditunaikan oleh seluruh umat muslim.
Baik dimanapun dan dalam kondisi apapun, salat tetap menjadi kewajiban yang harus ditunaikan, sekalipun dalam perjalanan.
Begitupun ketika dalam kendaraan saat melakukan perjalanan, salat tetap dikerjakan, dan untuk arah kiblatnya tidak harus bingung.
Buya Yahya menyampaikan terkait arah kiblat saat akan salat dalam perjalanan, dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube Buya Yahya.
Baca Juga: Tata Cara Salat Idul Fitri Lengkap dengan Niat, Simak di Sini!
"Cukup anda duduk, jika salat fardhu menghadap ke kiblat, kalau ternyata tidak bisa karena kendaraanya tidak mengarah ke kiblat dan kita tidak bisa menghadap ke kiblat, maka cukup kemana saja," ungkap Buya Yahya.
"Cuma bedanya kalau salat fardhu harus diganti, kalau salat sunnah bebas, salat sunnah itu kiblatnya arah kendaraan," sambungnya.
Selanjutnya Buya Yahya menjelaskan cara salat dalam kendaraan saat di perjalanan cukup hanya dengan duduk.
"Salat diatas kendaraan cukup duduk, yang penting punya air wudhu, seorang wanita ibu-ibu dengan maju muslimahnya, sudah cukup," jelas Buya Yahya.
Baca Juga: 10 Titik Lokasi Salat Id 1444 H DKI Jakarta, Jumat 21 April 2023, Jangan Ketinggalan!
"Yang penting kaki dia tutup dengan kaos kakinya sampai disini (sambil menunjukan pergelangan tangan), salat Allahu akbar biasa," lanjutnya.
Buya Yahya juga menjelaskan terkait pemakaian sandal atau sepatu yang dipakai saat akan salat dalam perjalanan.
"Untuk sandal mohon dilepas, diinjak bukan dikenakan, kalau dikenakan khawatir ada najis, kalau ada najis berarti dia membawa najis," ujar Buya Yahya.
"Khawatir, cuman enggak ragu, enggak najis Insya Allah, cuma khawatir, mending diinjak dan dilepas saja, kalau diinjak berarti tidak membawa najis," lanjutnya.
Berikut Buya Yahya mencontohkan peragaan ruku dan sujud saat salat dalam kendaraan di perjalanan.
"Rukuknya begini (sedikit membungkukan badan sambil duduk), sujudnya tidak harus ini (jidat) nempel di jok depan, kalau bisa sih ok, yang penting sujudnya lebih rendah dari rukuknya (membungkuk lebih rendah dari rukuk), seperti biasa at tahiyat selesai, ini kalau di mobil," jelas Buya Yahya.
"Kalau di luar, anda jangan ragu, anda salat dimana saja asalkan milik umum bukan milik pribadi, kalau milik orang harus minta izin, salat dimana saja yang penting tidak ada najisnya," sambungnya.
Buya Yahya menyebutkan beberapa najis yang dimaksud dan menurutnya semuanya tempat di bumi ini adalah suci.
"Dan najis itu jelas, kencing, mandi besar, buang air besar (BAB), darah, muntahan, selagi tidak itu 7 najis enggak usah mikir najis, kalau mikir najis menunjukkan kebodohannya," ungkap Buya Yahya.
"Semuanya di semesta itu aslinya suci, tidak akan berubah menjadi najis kecuali dengan yakin," lanjutnya.
Bahkan ketika hendak shalat di tanah pun Buya Yahya menyebutkan shalatnya sah, meskipun hingga jidat berlumpur tanah.
"Di jalan enggak usah pusing, suci semuanya, ketika kita di perjalanan ada orang ngasih sajadah, biarpun kita di tanah jangan kasih sajadah, khawatir salat kita harus dengan sajadah," jelas Buya Yahya.
"Biar orang tau kalau salat diatas tanah pun sah, dengan jidat sampai berlumpur sah, tanah bukan najis, dimana saja salat," pungkasnya.***

Share this article
Begitupun ketika dalam kendaraan saat melakukan perjalanan, salat tetap dikerjakan, dan untuk arah kiblatnya tidak harus bingung.