AYOJAKARTA.COM - Jusuf Hamka hadir sebagai bintang tamu dalam podcast Denny Sumargo.
Jusuf Hamka yang juga merupakan anak angkat dari Buya Hamka membongkar alasan mengapa orang Tionghoa lebih kaya daripada pribumi.
Sebagai informasi Babah Alun, nama panggilannya merupakan seorang muslim keturunan Tionghoa.
Dirinya dikenal merupakan konglomerat yang sukses di bidang jalan tol bahkan kerap disebut bos jalan tol.
Ia juga memiliki jabatan di berbagai perusahaan terkenal di Indonesia seperti menjadi Komisaris Utama PT Mandara Permai, Komisaris PT Indosiar Visual Mandiri, dan masih banyak perusahaan ternama lainnya.
Dikutip AyoJakarta.com pada (7/7/2023) dari kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, selain membongkar alasan masyarakat Tionghoa yang lebih kaya daripada pribumi, Jusuf Hamka juga membeberkan pola pikir orang tua Tionghoa.
Baca Juga: Siap Dukung Prabowo Jadi Presiden 2024, Jusuf Hamka Bertemu Serta Bernostalgia Bersama
“Orang-orang kayak bapak (Tionghoa) itu kan banyak yang sukses kalau kita lihat dari statistic data tuh yang aku dapat orang Chinese non muslim ya termasuk itu biasanya kan lebih kaya gitu. Sedangkan yang pribumi maaf, mereka nih tidak banyak,” ujar Denny Sumargo
“Gini dulu sebenarnya ada kesalahan dari pemerintah di zaman orde baru. Bahwa semua orang-orang Tionghoa tidak boleh terlibat di dalam politik," ung”ap Jusuf Hamka.
Selain itu Babah Alun juga mengungkapkan bahwa pada saat orde baru orang Tionghoa juga tidak boleh ikut sekolah negeri dan tidak diperbolehkan menjadi polisi, tentara, dan pegawai negeri.
Menurutnya meskipun ada sangatlah sedikit dan menjadi minor. Maka dari itu menurutnya karena aturan yang ketat di zaman tahun 1965 hingga 1998.
Sehingga menyebabkan masyarakat Tionghoa di Indonesia bergerak di bidang usaha serta bersekolah di sekolah swasta.
Selain itu anak angkat Buya Hamka ini juga mengatakan bahwa pada saat itu sektor usaha juga tidak ditangani dengan baik, sehingga akhirnya orang Tionghoa yang mendapatkan peran di sektor bisnis.
Baca Juga: Jusuf Hamka Pamer Foto Ngopi Bareng Prabowo Subianto, Publik: Cocok Nih Jadi Cawapres
“Ada aturan begitu sehingga si orang-orang Tionghoa ini tidak mempunyai kesempatan untuk jadi pegawai negeri atau polisi atau tentara sehingga akhirnya bergerak di bidang usaha,” jelas Jusuf Hamka.
“Kan sehingga sektor bisnis tidak ditangani dengan baik, akhirnya orang-orang Tionghoa yang mendapatkan peran di sektor bisnis, kan tidak boleh jadi pegawai negeri, kebijakan yang dibuat dulu itu kan,” tambahnya.
Lebih lanjut anak angkat Jusuf Hamka ini mengungkapkan ada yang namanya teori Alibaba, yang mana kebijakan pemerintah zaman orde baru membuat peraturan bahwa perusahaan pribumi akan diberikan prioritas.
Hal ini menyebabkan banyak yang minta izin kehutanan konsesi kayu pribumi yang bernama Ahmad atau Ali di depan dirut yang dipunyai Baba sehingga menjadi Alibaba.
“… kan harusnya kan UMKM pribumi jadi Alibaba, Ali yang nongol Baba yang punya,” lanjut Jusuf Hamka.
Babah Alun ini menjelaskan bahwa pada saat itu warga pribumi lebih senang menjadi pegawai negeri atau pegawai sehingga tidak mengerti bisnis dan tidak punya kesempatan untuk berbisnis.
Baca Juga: Tak Mau Kalah dengan Puan dan AHY, Stafsus Menkeu Akhirnya Bertemu Jusuf Hamka: Akrab, Penuh Canda
Selain itu ia juga menjelaskan peran pola didik orang Tionghoa yang diajarkan untuk selalu hemat dan harus bisa mencari uang serta mempersiapkan diri jika nantinya dalam keadaan susah, sakit pendidikan anak, serta keadaan hari tua.
Dia juga diajarkan untuk memiliki mindset kalau orang tua tidak boleh lebih miskin dari anak-anak agar memiliki wibawa dan tidak boleh sampai meminta uang dari anak-anak.***

Share this article
Jusuf Hamka singgung kenapa orang Tioghoa lebih kaya dari pribumi, benarkah ada hubungannya dengan orde baru?