AYOJAKARTA.COM – Media besar dunia, The Washington Post melakukan rekonstruksi berdasarkan video eksklusif, laporan saksi mata dan analisis dari pakar terhadap insiden mematikan di Stadion Kanjuruhan, Malang.
Dalam sebuah artikel yang berjudul “How police action in Indonesia led to a deadly crush in the soccer stadium” pada 6 Oktober 2022, Rebecca Tan dan tim dari The Washington Post menjelaskan tentang kronologi yang terjadi pada akhir laga Arema vs Persebaya.
Rentetan besar amunisi gas air mata yang ditembakkan oleh polisi Indonesia ke arah para suporter telah menyebabkan kehancuran fatal di Malang, akhir pekan lalu.
Amunisi tersebut termasuk gas air mata, flashbangs, dan suar yang diketahui telah melanggar protokol dan pedoman keamanan nasional untuk pertandingan sepak bola.
Tindakan pihak kepolisian tersebut mengakibatkan para penggemar berlarian ke pintu keluar, hingga akhirnya banyak orang yang terinjak-injak, terjepit ke dinding dan pintu logam karena beberapa pinu keluar yang ditutup.
Berdasarkan pemeriksaan lebih dari 100 video dan foto, wawancara dengan 11 saksi, dan analisis oleh para ahli mengungkapkan bagaimana penggunaan gas air mata oleh polisi menyebabkan kerumunan besar di ujung selatas stadion Kanjuruhan, seperti yang dikatakan oleh penyintas bahwa itu tempat sebagian besar kematian terjadi.
Saksi mengungkapkan kenyataan bahwa beberapa pintu keluar yang dikunci, semakin memicu kepanikan penonton pertandingan yang mempertemukan Arema dan Persebaya.
Hal ini dikonfirmasi oleh presiden negara itu, yang telah memerintahkan peninjauan keamanan stadion di negara itu.
Hingga Kamis (6/10/2022), para pejabat mengatakan 131 orang telah meninggal, termasuk 40 anak-anak dalam insiden di kandang Arema tersebut.
Di sisi lain, kelompok-kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International Indonesia, mengatakan jumlah korban di kabupaten Malang di Indonesia bisa mencapai 200 orang.
Pemerintah Indonesia telah menyerukan penyelidikan atas insiden tersebut, yang merupakan salah satu bencana kerumunan paling mematikan yang pernah tercatat.
Pejabat kepolisian provinsi mengatakan penggunaan gas air mata mereka diperbolehkan karena "ada anarki," tetapi para ahli pengendalian kerumunan yang meninjau rekonstruksi video yang disediakan oleh The Post tidak setuju.
Kepala kepolisian Malang dan sembilan petugas lainnya diberhentikan pada Rabu karena peran mereka dalam bencana tersebut.
Kemudian, 18 petugas lainnya yang terlibat dalam kejadian ini juga sedang diselidiki.
Tindakan polisi telah melanggar protokol Asosiasi Sepak Bola Indonesia, yang menyatakan bahwa semua pertandingan harus mematuhi ketentuan keamanan yang ditetapkan oleh FIFA, badan pengatur global sepak bola.
FIFA melarang "gas kontrol kerumunan" digunakan di dalam stadion dan mengamanatkan bahwa gerbang keluar dan pintu keluar darurat tetap tidak terhalang setiap saat.
Video yang diberikan secara eksklusif kepada The Post menunjukkan bahwa polisi, tak lama setelah pertandingan berakhir, menembakkan setidaknya 40 amunisi nonlethal ke arah penggemar baik di lapangan atau di tribun.
Sebagian besar gas melayang ke arah bagian tempat duduk, atau "tribune," 11, 12 dan 13. ***

Share this article
Media besar dunia, The Washington Post melakukan rekonstruksi berdasarkan video eksklusif, laporan saksi mata dan analisis dari pakar.