AYOJAKARTA.COM - Dalam sidang pembacaan nota pembelaan atau pledoinya, Ferdy Sambo curhat bahwa kehidupannya saat ini sedanglah buruk.
Bagai terperosok dalam nestapa, Sambo mengatakan bahwa selama di dalam tahanan ia kehilangan kemerdekaannya.
Selain itu, ia juga curhat bahwa kehidupannya kini berubah karena sudah jauh dari berbagai fasilitas yang selama ini ia dapatkan.
Baca Juga: Niat Puasa Rajab Bolehkah Digabungkan dengan Puasa Sunnah Senin Kamis? Ini Penjelasannya
Dikutip AyoJakarta.com dari Youtube Kompas TV, Sambo membacakan pledoi atau nota pembelaannya sembari curhat tentang nestapa yang dihadapinya.
Pada hari sidang pledoinya (24/01/2023) tepat 165 hari Sambo berada dalam tahanan untuk menjalani pemeriksaan perkara pembunuhan Yosua.
Dengan nada suara memelas, ia berkata telah kehilangan kemerdekaan hidup selama mendekam di penjara.
“Berada dalam tahanan berarti kehilangan kemerdekaan dalam hidup sebagai manusia selama ini,” ujar Sambo.
Lebih lanjut, Sambo juga curhat dengan mengatakan bahwa kini ia jauh dari fasilitas dan keluarganya.
“Saya menikmati jauh dari berbagai fasilitas, kehilangan kehangatan keluarga, sahabat dan handai taulan,” ungkapnya.
Sambo juga mengungkap curhatannya terkait hakikat kebahagiaan dalam kehidupan manusia yang sebelumnya ia rasakan sungguh telah sirna berganti dengan suram sepi dan gelap.
Ditahan di balik jeruji besi karena kasus ini, Sambo mengatakan penyesalannya dan merenungi kehidupan barunya.
“Di dalam jeruji tahanan yang sempit, saya terus merenungi betapa rapuhnya kehidupan saya sebagai manusia,” ucapnya.
Dirinya mengaku tidak pernah terbayangkan sebelumnya kehidupannya yang begitu terhormat dalam sekejap terperosok dalam nestapa dan kesulitan yang tidak terperikan.
]Baca Juga: Soroti Pembelaan Putri Candrawathi, Ibunda Yosua Sebut Tak Miliki Nurani: Sumber Malapetaka!
Ferdy Sambo mengatakan dalam nota pembelaanya bahwa ia menyesal telah melakukan perbuatan tersebut.
Namun penyesalannya tak bisa ditutupi dengan amarah dan murka yang menghampirinya kala itu.
“Demikianlah penyesalan kerap tiba belakangan, tertinggal oleh amarah dan murka yang mendahului,” ujarnya.***

Share this article
Ferdy Sambo curhat dalam sidang pledoi tentang nestapa yang dirasakan usai ditahan dibalik jeruji besi atas kasus Brigadir J