AYOJAKARTA.COM - Beberapa gempa bumi yang dirasakan warga Jawa Barat akhir-akhir ini membuat banyaknya spekulasi yang beredar di masyarakat.
Mulai dari pergerakan dari beberapa sesar aktif maupun aktivitas zona subduksi yang banyak dibicarakan para ilmuwan bisa memicu gempa bumi besar megathrust.
Daryono (Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG) sempat memberikan penjelasan terkait meningkatnya aktivitas seismik di beberapa wilayah melalui akun Twitternya @DaryonoBMKG (29/1/2023).
"Fenomena kegempaan akhir-akhir ini masih tergolong wajar jika mengacu data katalog dan statistik monitoring gempa di BMKG. Fluktuasi aktivitas kegempaan di Indonesia berupa peningkatan aktivitas gempa pernah tjd bbrp kali, spt pada Des 2021, Juli 2021, Nov 2019, Agus 2018 dan Nov 2018," tulis Daryono.
Namun meskipun dinilai wajar, masyarakat harus tetap waspada akan adanya pergerakan sesar sesar aktif yang dapat menimbulkan gempa merusak.
Hal ini pun disampaikan dalam sebuah artikel ilmiah yang terbit melalui laman bmkg.go.id dengan judul "BENCANA GEMPABUMI SESAR AKTIF VERSUS MEGATHRUST DI SELATAN JAWA BARAT" ditulis oleh Dr. Jaya Murjaya, MSi (31/12/2022).
Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa Provinsi Jawa Barat memang merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat aktivitas seismik tinggi.
Wilayah Jawa Barat memiliki 10 sesar aktif yang sudah teridentifikasi dan sesar aktif lainnya yang belum teridentifikasi.
Bahkan dalam kurun waktu 50 tahun terdapat beberapa gempa bumi merusak yang mengguncang wilayah ini antara lain :
-
gempa bumi tenggara Tasik tanggal tanggal 2 November 1979 (M 6.4),
-
gempa bumi Majalengka tanggal 6 Juli 1990 (M 5.8),
-
gempa bumi Cicalengka (sesar tersembunyi) tangga tanggal 18 Agustus 2000 (M 4.4),
-
gempa bumi Sukabumi tanggal 10 Februari 1982 (M 5.5),
-
gempa bumi Sukabumi tanggal 12 Juli 2000 (M 4.9-5.1) dan terakhir
-
gempa bumi Cianjur tanggal 21 November 2022.
Baca Juga: Waspada! Ini 9 Wilayah Lintasan Sesar Cugenang yang Sebabkan Gempa Susulan Cianjur Sebanyak 487 Kali
Kemudian pada abad 19, wilayah Jawa Barat khususnya daerah sekitar Bogor, Cianjur dan Sukabumi terjadi paling tidak ada 5 kali gempa bumi dengan intensitas VII-IX MM (kerusakan sedang hingga kerusakan berat).
Namun selain gempa akibat sesar, pada dua dekade ini telah terjadi pula gempa bumi yang diakibatkan oleh zona megathrust yang kemudian memicu tsunami di wilayah pantai Pangandaran.
Gempa megathrust tersebut terjadi tanggal 17 Juli 2006 (M 7.7) diberitakan 550 orang meninggal, ratusan orang luka-luka di daerah pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah akibat hantaman tsunami.
Baca Juga: Mengenal Sesar Garsela, Sesar Aktif Pemicu Gempa Kuat di Wilayah Jawa Barat
Tak hanya menerjang pesisir Pangandaran, namun tsunami tersebut juga mengenai pantai Kebumen, pantai Cilacap, pantai Samas dan pantai Parang Tritis Yogyakarta.
Dengan diterbitkannya artikel ilmiah tersebut, para ahli pun menghimbau masyarakat untuk tetap waspada menghadapi gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Selain itu diperlukan program mitigasi risiko bencana dan tata ruang oleh pemerintah.
Kemudian pentingnya untuk mempelajari faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kerusakan bangunan akibat gempa bumi diantaranya kondisi tanah atau geologi, kondisi bangunan, jarak pusat gempa bumi dari pemukiman serta memperhatikan zona terlarang yang dipetakan oleh pihak terkait.***

Share this article
Ternyata wilayah Jawa Barat memiliki 10 sesar aktif yang sudah teridentifikasi dan sesar aktif lainnya yang belum teridentifikasi.