AYOJAKARTA.COM - Jerawat merupakan salah satu masalah kulit paling umum yang dialami hampir semua orang, terutama remaja dan dewasa muda.
Meski terlihat sepele, jerawat ternyata bukan sekadar soal penampilan. Kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan kulit hingga kondisi mental seseorang jika tidak ditangani dengan tepat.
Secara medis, jerawat terjadi ketika folikel rambut tersumbat oleh campuran sebum (minyak alami kulit) dan sel kulit mati.
Sumbatan ini kemudian menjadi tempat berkembangnya bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes) yang memicu peradangan.
Akibatnya, muncul berbagai jenis jerawat, mulai dari komedo hingga kista yang berisiko meninggalkan bekas permanen.
Dilansir dari laman nhs.co.uk, jerawat paling sering muncul di area dengan kelenjar minyak terbanyak, seperti wajah, punggung, dada, dan leher.
Hampir semua pengidap jerawat mengalaminya di wajah, lebih dari setengahnya di punggung, dan sekitar 15 persen di dada.
Bentuknya pun beragam, mulai dari komedo hitam dan putih, papula, pustula, nodul, hingga kista yang terasa nyeri dan berisi nanah.
Penyebab jerawat tidak hanya soal kebersihan kulit. Faktor hormon memegang peran besar, terutama saat pubertas, menstruasi, kehamilan, atau kondisi seperti PCOS.
Selain itu, faktor genetik juga berpengaruh. Jika orang tua memiliki riwayat jerawat, risiko mengalaminya pun lebih tinggi.
Penggunaan kosmetik yang tidak sesuai jenis kulit, stres, kebiasaan merokok, hingga konsumsi obat tertentu juga dapat memperparah kondisi jerawat.
Banyak orang keliru dengan mencuci wajah terlalu sering atau memencet jerawat agar cepat hilang.
Padahal, kebiasaan ini justru dapat memperparah peradangan dan meningkatkan risiko bekas jerawat permanen.
Para ahli menyarankan untuk mencuci wajah maksimal dua kali sehari dengan pembersih lembut, menggunakan produk non-komedogenik, serta menghindari produk berbasis minyak.
Meski jerawat tidak bisa disembuhkan secara instan, kondisinya dapat dikontrol dengan perawatan yang tepat.
Untuk jerawat ringan, konsultasi dengan apoteker bisa menjadi langkah awal.
Namun, jika jerawat tergolong sedang hingga berat, disertai nodul atau kista, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan terapi yang sesuai dan mencegah jaringan parut.
Studi terbaru juga menunjukkan bahwa jerawat tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga mental.
Rasa percaya diri menurun, kecemasan, hingga depresi kerap dialami pengidap jerawat kronis.
Karena itu, penanganan jerawat sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada kulit, tetapi juga kualitas hidup penderitanya.***

Share this article
Jerawat muncul akibat folikel rambut tersumbat, hormon, genetik, atau kosmetik. Bisa muncul di wajah, punggung, dada. Hindari memencet, rawat dengan tepat untuk cegah bekas.