AYOJAKARTA.COM - Kebiasaan begadang kerap dianggap sepele, terutama bagi mereka yang aktif bekerja hingga larut malam atau merasa lebih produktif saat malam hari.
Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa pola tidur larut atau menjadi night owl ternyata berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada 28 Januari di Journal of the American Heart Association mengungkap bahwa orang yang terbiasa tidur larut memiliki risiko kesehatan kardiovaskular yang lebih buruk dibanding mereka yang tidur lebih awal atau bangun pagi.
"Faktor penyebab serangan jantung tetaplah hal-hal mendasar, seperti tekanan darah, kolesterol, gula darah, paparan nikotin, aktivitas fisik, berat badan, pola makan, dan kesehatan tidur. Tetapi begadang bisa menjadi pemicunya," ujar Kristen Knutson , PhD, seorang pakar sukarelawan di AHA dan profesor madya kedokteran tidur di Northwestern University Feinberg School of Medicine, dilansir dari healthline.
Penelitian ini menganalisis data lebih dari 300 ribu orang dewasa di Inggris melalui basis data UK Biobank dengan masa pemantauan hampir 14 tahun.
Night Owl dan Risiko Jantung
Dalam penelitian tersebut, partisipan diklasifikasikan berdasarkan chronotype, yaitu pola alami tidur-bangun tubuh.
Hasilnya, kelompok night owl memiliki risiko serangan jantung dan stroke 16 persen lebih tinggi dibanding kelompok dengan pola tidur menengah.
Bahkan, prevalensi kesehatan jantung yang buruk pada kelompok ini tercatat 79 persen lebih tinggi.
Para peneliti menilai kesehatan jantung menggunakan kerangka Life’s Essential 8 dari American Heart Association, yang mencakup delapan faktor utama seperti kualitas tidur, aktivitas fisik, pola makan, tekanan darah, kolesterol, gula darah, berat badan, dan kebiasaan merokok.
Night owl diketahui memiliki skor lebih buruk pada enam dari delapan faktor tersebut.
Menariknya, para ahli menegaskan bahwa chronotype bukanlah penyebab utama, melainkan kebiasaan tidak sehat yang sering menyertai pola begadang.
Merokok menyumbang lebih dari sepertiga risiko penyakit jantung pada night owl, disusul kualitas tidur buruk yang berkontribusi sekitar 14 persen.
Efek Begadang pada Jantung
Begadang secara rutin dapat memicu berbagai gangguan pada jantung. Kurang tidur diketahui meningkatkan tekanan darah, memicu gangguan irama jantung, mempercepat kerusakan pembuluh darah, serta meningkatkan kadar gula darah akibat resistensi insulin.
Selain itu, kadar hormon stres seperti kortisol juga meningkat, membuat jantung bekerja lebih keras.
Dalam jangka panjang, kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, hingga gagal jantung, terutama jika disertai kebiasaan merokok, jarang berolahraga, dan pola makan tidak sehat.
Cara Menjaga Kesehatan Jantung Meski Sering Begadang
Kabar baiknya, risiko tersebut dapat ditekan dengan perubahan gaya hidup.
Para ahli menyarankan untuk fokus pada faktor yang bisa dikendalikan, seperti berhenti merokok, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan, serta memastikan tidur cukup 7–9 jam per hari.
Bagi pekerja shift atau mereka yang sulit menghindari begadang, menjaga konsistensi waktu tidur, mengganti jam tidur yang kurang, serta membatasi kafein dan junk food menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan jantung.
Kesimpulannya, begadang memang berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung, tetapi dampaknya sangat dipengaruhi oleh gaya hidup.
Dengan kebiasaan sehat dan manajemen tidur yang baik, risiko tersebut tetap bisa ditekan.***

Share this article
Studi terbaru menyebut kebiasaan begadang atau night owl berkaitan dengan risiko serangan jantung dan stroke lebih tinggi, terutama akibat pola hidup tidak sehat dan kurang tidur.