AYOJAKARTA.COM – Seringkali menjadi favorit banyak orang karena teksturnya yang renyah dan rasa yang gurih, kulit ayam kerap dikonsumsi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan.
Namun, kulit ayam sering dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan, termasuk risiko kanker.
Lantas, benarkah kulit ayam bisa memicu penyakit kanker, atau ini hanya sekadar mitos belaka?
Berikut adalah penjelasan berdasarkan fakta ilmiah yang dikutip dari berbagai sumber.
Baca Juga: Penyebab Marissa Haque Tutup Usia Diduga Akibat Kanker Laring, Ini Gejala dan Cara Penanganannya
Fakta tentang Kulit Ayam dan Kanker
Kulit ayam mengandung lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi. Konsumsi berlebihan makanan tinggi lemak jenuh telah dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara dan kolorektal.
Lemak jenuh dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan berkontribusi pada pertumbuhan sel kanker dalam kondisi tertentu.
Berdasarkan penelitian, kulit ayam dapat mengandung residu hormon dan antibiotik yang larut dalam lemak.
Hormon ini dapat memengaruhi metabolisme tubuh, meskipun hubungan langsung dengan kanker masih belum sepenuhnya terbukti.
Namun, perlu diketahui, metode pengolahan seperti penggorengan pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa berbahaya, seperti hasil oksidasi kolesterol, yang berpotensi merusak kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.
Baca Juga: Selain Benjolan, Ini 5 Tanda Awal Kanker Payudara yang Patut Diwaspadai
Jadi, Mitos atau Fakta?
Kulit ayam secara langsung menyebabkan kanker adalah mitos. Konsumsi kulit ayam tidak langsung menyebabkan kanker, tetapi pola makan tinggi lemak jenuh dan kolesterol dapat meningkatkan risiko terkena beberapa jenis kanker jika dilakukan terus-menerus dalam jumlah besar.
Jadi, kulit ayam aman dikonsumsi dalam jumlah wajar. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, termasuk obesitas, penyakit jantung, stroke, dan potensi risiko kanker akibat kandungan lemak jenuh dan kolesterolnya.
Untuk menjaga kesehatan, disarankan mengurangi konsumsi kulit ayam yang diproses secara tidak sehat (seperti digoreng) dan mengimbanginya dengan pola makan kaya serat serta gaya hidup aktif.***

Share this article
Berdasarkan penelitian, kulit ayam dapat mengandung residu hormon dan antibiotik yang larut dalam lemak.