AYOAJAKARTA.COM – Ajang paling bergengsi Piala Dunia 2022 Qatar sudah tinggal menunggu hitungan hari.
Sebagian besar tim nasional peserta Piala Dunia 2022 dari seluruh dunia sudah berada di tanah gersang negara Qatar.
Selain beradaptasi dengan kondisi geografis Qatar, peserta Piala Dunia 2022 juga menikmati kenyamanan di tengah ketatnya jadwal.
Baca Juga: Jadi Saksi Baru Tewasnya Satu Keluarga di Kalideres, Tukang Jamu: Dia Pernah Minjem Duit Rp 50 Juta
Sejak terpilih sebagai tuan rumah Qatar World Cup 2022 pada tahun 2010 lalu, negara ini langsung membuat delapan stadion lengkap dengan segala infrastrukturnya.
Dana sebesar $ US 220 milyar atau setara dengan 3 Kuadriliun rupiah sudah disiapkan untuk ajang piala dunia.
Pembangunan infrastruktur hingga fasilitas penunjang semua perlu dikerjakan dalam waktu yang super cepat dan singkat.
Melalui agensi, Qatar kemudian mendatangkan jutaan pekerja dari negara-negara miskin tetangga.
Baca Juga: Bikin Hati Tenang, Alternatif Jika WhatsApp Down, Bisa Pakai Aplikasi Ini
Inilah yang membuat jumlah angka migrasi atau perpindahan orang ke Qatar mengalami peningkatan tajam.
Tercatat sebanyak 1,7 juta imigran asal Bangladesh, Nepal, serta Afrika direkrut untuk menyiapkan fasilitas bagi peserta dan tamu-tamu khusus.
Ironisnya, tidak sedikit dari para pekerja kasar ini yang dituntut untuk bekerja lebih ekstra keras tanpa ada jaminan kemanusiaan.
Akibatnya, angka kematian buruh migran di Qatar dalam beberapa tahun lalu mengalami peningkatan yang cukup mengerikan.
Baca Juga: Mbah Moen Anjurkan Amalan Ini, Rezeki Berkah dan Melimpah akan Datang dengan Sendirinya!
Selain itu, ada juga informasi yang menyebutkan bahwa upah milik para pekerja migran tersebut belum dibayar oleh agensi.
Pihak agensi nakal inilah yang sejak awal juga sudah menahan paspor para buruh migran, sehingga mereka terjebak di Qatar atau resiko dideportasi jika melapor ke polisi.
Jutaan buruh migran banyak yang diperlakukan dengan kurang manusiawi dan hanya dijadikan seperti budak kerja paksa di dunia modern.
Dengan kondisi geografis Qatar yang mencapai suhu 50° Celcius, para buruh migran bahkan tidak mendapat akses air bersih secara mudah.
Baca Juga: Selamat! Tenaga Honorer Bisa Diangkat Jadi CPNS 2023, Seleksi Terpisah dari Pelamar Umum
Selain penginapan yang buruk, para buruh migran juga diberikan tempat tinggal yang tidak layak serta sanitasi kotor dan membawa resiko penyakit.
Suasana menyedihkan semacam ini banyak membuat para buruh migran kemudian mengalami depresi hingga tidak sedikit yang bunuh diri.
Impian indah bekerja sebagai pekerja di negara kaya, justru berujung pada penyesalan berkepanjangan.
Demikian sisi gelap piala dunia Qatar sebagai ajang termewah sepanjang sejarah, seperti dikutip Ayojakarta dari kanal Youtube Detective Aldo pada 17 November 2022. ***

Share this article
Bersiap Piala Dunia 2022 Qatar yang menjadi tuan rumah. Namun dibalik itu, ada pelanggaran HAM yang mencekam, begini penjelasannya