AYOJAKARTA.COM - Kehadiran Samsung Galaxy Watch 9 diprediksi kembali meramaikan pasar smartwatch premium di 2026.
Namun, alih-alih fokus pada peningkatan spesifikasi seperti baterai atau sensor baru, ada satu isu besar yang justru menjadi sorotan, yakni pembatasan fitur kesehatan.
Dalam ekosistem smartwatch modern, akses fitur menjadi faktor krusial. Sayangnya, pada Galaxy Watch, tidak semua fitur bisa dinikmati oleh semua pengguna Android.
Masalahnya bukan pada hardware, melainkan aplikasi Samsung Health Monitor.
Dilansir dari Youtube Tcol Tech, Samsung membagi layanan kesehatannya ke dua lapisan, yakni Samsung Health yang kompatibel luas di Android, dan Samsung Health Monitor yang berisi fitur kesehatan tingkat lanjut.
Di sinilah letak “tembok” yang membuat pengalaman pengguna terasa tidak lengkap.
Beberapa fitur unggulan seperti ECG (elektrokardiogram), pemantauan tekanan darah, notifikasi detak jantung tidak normal, hingga deteksi sleep apnea hanya bisa diakses penuh jika smartwatch dipasangkan dengan ponsel Galaxy.
Artinya, meskipun pengguna membeli perangkat mahal, fitur terbaiknya tetap terkunci.
Padahal, untuk penggunaan dasar, Galaxy Watch tetap berfungsi optimal di berbagai perangkat Android.
Pengguna masih bisa menikmati pemantauan detak jantung, pelacakan olahraga, analisis tidur, hingga komposisi tubuh. Fitur-fitur ini sudah cukup untuk kebutuhan kebugaran harian.
Namun, bagi pengguna yang membeli smartwatch untuk fitur kesehatan serius, keterbatasan ini menjadi masalah besar.
Apalagi di era Wear OS yang kini semakin terintegrasi, ekspektasi pengguna adalah pengalaman lintas perangkat yang lebih terbuka.
Jika dibandingkan dengan kompetitor, pendekatan Samsung mulai terlihat ketinggalan.
Google Pixel Watch menawarkan fitur kesehatan yang lebih terbuka di berbagai perangkat Android.
Sementara Garmin dikenal dengan pendekatan platform-agnostic yang fleksibel.
Masalah ini berbeda dengan Apple Watch yang sejak awal memang eksklusif untuk iPhone.
Pada Galaxy Watch, perangkat tetap kompatibel dengan Android lain, tetapi fitur unggulannya justru dibatasi.
Secara spesifikasi, Galaxy Watch 9 diperkirakan membawa peningkatan minor seperti chipset lebih cepat, optimasi software, dan fitur berbasis AI.
Namun, peningkatan tersebut dinilai kurang signifikan jika dibandingkan dengan kebutuhan utama pengguna, yaitu akses penuh terhadap fitur yang sudah ada.
Contoh paling jelas terlihat pada fitur pemantauan tekanan darah. Samsung menegaskan fitur ini bukan pengganti alat medis, melainkan indikator tren kesehatan.
Meski begitu, aksesnya tetap dibatasi, sehingga manfaatnya tidak bisa dirasakan semua pengguna.
Kesimpulannya, Samsung Galaxy Watch 9 berpotensi menjadi smartwatch terbaik di Android, tetapi hanya jika Samsung membuka akses fitur kesehatannya secara lebih luas.
Tanpa perubahan kebijakan ini, peningkatan hardware saja tidak cukup untuk menjadikannya pilihan utama.
Di tengah persaingan ketat wearable, satu hal menjadi jelas, yakni pengguna tidak hanya membeli perangkat, tetapi juga akses.***

Share this article
Samsung Galaxy Watch 9 diprediksi rilis 2026 dengan isu utama pembatasan fitur kesehatan seperti ECG bagi non-pengguna ponsel Galaxy. Meski spek naik, akses terbatas ini hambat daya saingnya.