AYOJAKARTA.COM — Dalam beberapa pekan, istilah "erotomania" tengah menjadi salah satu kata yang banyak berseliweran di sejumlah platform media sosial.
Meski tergolong sebagai salah satu istilah yang jarang didengar atau dipergunakan dalam percakapan, namun erotomania kini masih menjadi sorotan.
Dirangkum dari kanal YouTube Helo Sehat, erotomania merupakan suatu kondisi di mana seseorang memiliki keyakinan dicintai meski sebenarnya tidak.
Menurut salah seorang psikoterapis bernama Gary Tucker, kondisi erotomania tiga kali lebih mungkin dialami oleh wanita ketimbang pria.
Seseorang yang terkenal atau berada di dalam suatu struktur sosial terpandang, seringkali menjadi subjek dari para pengidap erotomania.
Namun demikian, ada juga yang menyebut bahwa erotomania merupakan jenis gangguan delusi dimana seseorang merasa sangat dicintai oleh orang lain meskipun tidak nyata.
Salah satu kebiasaan atau perilaku yang ditengarai menjadi penyebab hadirnya kondisi erotomania adalah kebiasaan menghayal atau membaca berita.
Orang dengan gangguan ini akan merasa sedang dicintai oleh seseorang yang kondang, tampan, kaya raya meski tidak sepenuhnya benar.
Sehingga kondisi erotomania tidaklah muncul dari kondisi delusi yang timbul karena suatu realitas, melainkan karena imajinasi yang terlalu keras.
Seseorang yang mengalami gangguan delusi, akan memiliki kecenderungan salah dalam menerjemahkan ekspresi atau bahasa tubuh seseorang.
Sehingga dari hasil kesalahan menerjemahkan ekspresi dan gestur tersebut, berdampak pada kekeliruan dalam memberi tanggapan atau respon.
Kendati demikian, para ahli di bidang terkait masih belum bisa menemukan penyebab pasti dari semakin banyaknya fenomena pengidap erotomania.
Individu yang sering menyendiri dan memiliki kepercayaan diri rendah serta kondisi psikologis tertekan sering dianggap sebagai pencetus.
Tidak adanya keyakinan akan diri sendiri serta rasa takut akan kehilangan perhatian, membuat seseorang rentan mengalami delusi dan berujung pada erotomania.
Selain itu, perilaku berlebih dalam menggunakan media sosial serta aktivitas stalking juga dipercaya menjadi penyebab awal erotomania.
Pengidap erotomania akan memiliki kecenderungan membicarakan terus menerus, selalu ingin bertemu atau berinteraksi dengan seseorang yang dianggap tertarik kepadanya.
Dalam kondisi yang lebih delusif, penderita bahkan merasa selalu dikuntit atau diikuti secara terus menerus oleh subjek erotomania.
Orang yang mengalami kondisi erotomania akan merasa sangat dicintai oleh orang lain, dan sangat merasa kecewa setelah mengetahui realitas sesungguhnya.
Erotomania yang tidak ditangani secara tepat, bisa menjadi gejala kondisi mental seperti alzheimer, bipolar, skizoafektif, dan skizofrenia.***

Share this article
Dalam beberapa pekan, istilah erotomania tengah menjadi salah satu kata yang banyak berseliweran di sejumlah platform media sosial.