AYOJAKARTA.COM -– Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan seorang yang mengaku dukun pengganda uang namun tidak dapat menunjukkan hasil penggandaan melainkan makam dari para korban.
Dukun Slamet Tohari atau yang biasa dipanggil Mbah Slamet asal Banjarnegara diketahui membunuh para kliennya karena kesal ditagih hasil penggandaannya.
Setiap klien yang menyetorkan mahar berupa uang diiming-imingi penggandaan uang hingga Rp5 miliar.
Namun, bukannya uang dengan jumlah besar yang didapat, justru nyawa melayang. Mbah Slamet dengan tega meracuni para korbannya dan mengubur mereka di lahan milik orang tua dari Mbah Slamet.
Dikutip oleh AyoJakarta.com melalui kanal Youtube Metro TV pada 6 April 2023, dengan korban yang saat ini mencapai 12 orang.
Pertanyaan pun muncul, apa alasan masyarakat masih ada yang mempercayai sosok dukun palsu pengganda uang asal Banjarnegara tersebut?
Kriminolog Universitas Indonesia beri tanggapan
Prof. Adrianus Meliala, Kriminolog Universitas Indonesia mengungkapkan kemungkinan motif masyarakat masih mempercayai sosok dukun palsu pengganda uang.
Baca Juga: ASTAGA! Korban Kesadisan Dukun Pengganda Uang Banjarnegara Bertambah, Dua Mayat Ditemukan Lagi
Sebelumnya, diketahui terdapat Wowon Cs asal Kabupaten Cianjur yang melaksanakan pembunuhan keji para korban dengan modus penggandaan uang.
Adrianus mengungkapkan motif masyarakat mempercayai sosok dukun pengganda uang asal Banjarnegara adalah karena terbatasnya akses informasi untuk pemberitaan kasus serupa.
“Akses informasi yang terbatas karena ini kan masyarakat tidak semuanya tahu kasus Wowon Cs, sama menggandakan uang, korban dibunuh,” terang Adrianus.
Kemudian, selain terbatasnya akses informasi, diketahui para korban datang sendirian. Seperti keterangan anak salah satu korban yang menjadi satu-satunya korban yang diidentifikasi.
Korban datang sendirian, seharusnya datang berdua, entah bersama pasangan atau anak untuk mendapatkan perspektif atau pandangan lain tentang si dukun.
“Kebanyakan korban datang sendiri, sehingga percaya akan kalimat pemanis dukun tersebut. Coba datang bersama istri atau anak, maka akan dapat perspektif lain dari praktik dukun pengganda uang ini,” jelas Kriminolog UI tersebut.
Lebih lanjut, Prof. Adrianus menjelaskan bahwa pembunuhan yang dilakukan Mbah Slamet mungkin bisa menjadi terencana mungkin juga tidak. Masih membutuhkan penyidikan oleh pihak berwenang.
“Pada kejahatan pertama, kedua, mungkin pelaku menyiapkan tali, atau sejenisnya, ada perasaan bersalah, takut, namun ada rencana. Pembunuhan selanjutnya bisa saja lebih tertata, santai, karena sudah terbiasa,” kata Adrianus Meliala.
Terakhir Adrianus menjelaskan bahwa ada kesulitan sendiri untuk melarang masyarakat mempercayai praktik dukun pengganda uang.
“Hal ini karena sosok dukun dekat dengan masyarakat,” tutup Adrianus.
Hingga saat ini korban berjumlah 12 orang, dimana 10 diantaranya telah dilakukan otopsi. Meskipun 9 dari 10 jenazah sulit diidentifikasi, satu orang berhasil diidentifikasi dan telah dimakamkan di Sukabumi, Jawa Barat.
Sementara sembilan korban lain akhirnya dikuburkan secara massal. Polres Banjarnegara menghimbau untuk masyarakat yang kehilangan anggota keluarga segera melapor ke kepolisian.***(Zharifah Ardiana)

Share this article
Pertanyaan pun muncul, apa alasan masyarakat masih ada yang mempercayai sosok dukun palsu pengganda uang asal Banjarnegara tersebut?