AYOJAKARTA.COM -- Ketua Dewan Pakar Koalisi Indonesia Maju, Burhanuddin Abdullah, mengklaim penguatan dolar AS tidak ada kaitan antara program makan siang gratis atau kekhawatiran akan terjadinya ketidakpastian fiskal. Pernyataan ini dia sampaikan, terkait dengan melemahnya rupiah yang mendekati level Rp16.000 per dolar AS.
"Kebutuhan dolar AS sangat besar terkait dengan pemenuhan pembayaran dividen milik investor asing yang secara serentak dilaksanakan di bulan-bulan ini," katanya pada Kamis, 28 Maret 2024.
Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008 itu, penguatan dolar AS bukan disebabkan oleh ketidakjelasan suistainability fiskal Indonesia di masa depan.
Baca Juga: Apakah APBN Cukup untuk Program Makan Siang Gratis? Begini Penjelasan Sri Mulyani
"Ini harus diluruskan. Saya sendiri tidak percaya dengan pernyataan seperti itu. Kita semua mengetahui kalau pada bulan bulan ini (Maret-April) pembagian dividen. Seperti Bank Mandiri, BCA, semua perusahaan membagi dividen yang juga untuk investor asing. Seperti diketahui, peran asing juga cukup besar di kita," katanya.
Oleh karena itu, Burhanuddin mengatakan, diperlukan dolar AS yang cukup banyak sehingga harga dolar AS naik. "
"Ini penyebab yang jelas. Tapi kalau dikaitkan dengan makan siang gratis yang tidak jelas, suistainability yang tidak jelas, ini seperti melihat hantu di siang bolong. Bahkan program ini juga belum dilaksanakan," tegasnya
Burhanuddin menambahkan besarnya pembayaran dividen dalam bentuk dolar AS dari BNI, BRI, Bank Mandiri bisa mencapai US$2 miliar.
Baca Juga: PKS: Kalau Dana BOS Dipakai Makan Siang Gratis, Terus Guru Honorer Mau Digaji Pakai Apa?
"Kebutuhan dolar AS ini persoalannya, bukan makan siang gratis. Saya harus memberikan assurance kepada pasar bahwa pelaksanaan program makan siang gratis ini tetap kita perhatikan masalah governance dan suistainability fiskal. Kita sama sekali tidak berpikir untuk menambah utang. Malu juga masa kita untuk makan saja harus utang. Pokoknya kita jaga aturan dan sangat prudent dalam menata anggaran," tegasnya.
Dia menjelaskan pihaknya sudah membuat simulasi APBN Tahun 2025 dengan memasukkan program-program seperti makan siang gratis, membangun sekolah, rumah sakit, dan renovasi rumah di pedesaan. Juga bagaimana meningkatkan tax ratio, revenue ratio ditingkatkan, realokasi dan efisiensi anggaran.
"Dari simulasi ini, saya yakin bahwa kita akan bisa berjalan dengan baik dan penuh disiplin. Saya akan menjaga disiplin fiskal dan moneter yang selama ini sudah baik. Artinya, program makan siang gratis ini tidak akan merusak suistainability fiskal," jelas Burhanuddin.
"Mereka sudah siapkan bukan disediakan secara dadakan. Jadi penguatan dolar AS ini lebih disebabkan karena data ekonomi Amerika yang membaik atau tekanan global. Kalau yang dari dalam negeri lebih seasonal seperti kebutuhan lebaran, tunjangan ASN turun, dan dividen tadi," katanya.
Rupiah kembali ditutup melemah, hingga 65 poin pada perdagangan Rabu sore (27/3), walaupun sebelumnya sempat melemah 70 poin. Rupiah melemah ke level 15.858 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 15.792 per dolar AS.***

Share this article
Ketua Dewan Pakar Koalisi Indonesia Maju mengklaim penguatan dolar AS tidak ada kaitan dengan program makan siang gratis.