AYOJAKARTA.COM – Setelah sempat mengalami penundaan sejak akhir tahun 2024, iPhone 16 akhirnya diluncurkan secara resmi di Indonesia.
Namun, euforia peluncuran ini turut dibayangi kekhawatiran akan potensi kenaikan harga ponsel generasi berikutnya, termasuk iPhone 17.
Hal tersebut imbas dari kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara, termasuk Cina.
Ketergantungan Produksi iPhone pada Tiongkok
Hingga saat ini, rantai pasok produksi iPhone masih sangat bergantung pada Tiongkok.
Apple menggandeng dua raksasa manufaktur, Foxconn dan Luxshare, untuk memproduksi iPhone, dengan sekitar 90% produksinya berasal dari negara tersebut.
Namun, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif impor sebesar 145% terhadap produk dari Tiongkok berpotensi mengguncang struktur harga global.
Ancaman Kenaikan Harga Global, Termasuk Indonesia
Analis dari Morgan Stanley memperkirakan bahwa tanpa adanya pengecualian terhadap tarif tersebut, harga iPhone secara global bisa mengalami kenaikan hingga 17–18 persen, seperti yang pernah terjadi pada 2019.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, juga akan terdampak?
Dikutip ayojakarta.com dari berbagai sumber Farah Fausa, General Manager Marketing Apple Business di PT MAP Zona Adiperkasa, menyampaikan bahwa pihaknya masih memantau dan menghitung dampak kebijakan tarif tersebut terhadap harga produk Apple di Indonesia.
“Kami berharap pelonggaran regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dapat membantu menekan potensi kenaikan harga, serta memperlancar distribusi produk teknologi seperti iPhone ke konsumen Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: iPhone 17 akan Meluncur! Ini Spesifikasi Rahasia dan Harga Fantastis di Indonesia
Sebagai informasi, Apple sebelumnya mengalami kendala dalam memperoleh sertifikasi TKDN, yang menyebabkan keterlambatan peluncuran produk mereka di Indonesia.
Sertifikasi tersebut akhirnya diperoleh pada 7 Maret 2025 dengan tingkat kandungan lokal sebesar 40 persen.
Tak hanya itu, Apple juga telah mengumumkan komitmen investasinya sebesar USD 160 juta atau sekitar Rp 2,62 triliun di Indonesia dalam periode 2025 hingga 2028, untuk memperkuat kehadirannya di pasar domestik.
Mei Yuan, Asisten Profesor Ekonomi di Singapore Management University, menilai bahwa produk elektronik seperti iPhone akan menghadapi tantangan lebih besar di tengah ketegangan perdagangan internasional.
Komponen iPhone saat ini diproduksi di berbagai negara seperti Cina, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam.
Meski Apple mulai melakukan diversifikasi produksi ke India, sebagian besar proses manufaktur masih terpusat di Cina.
Pada 2024, Apple tercatat mengekspor iPhone senilai lebih dari 1 triliun rupee dari India.
Namun, perusahaan asal mereka mengakui bahwa kebijakan pembatasan perdagangan, termasuk tarif dan kontrol ekspor-impor, dapat berdampak signifikan terhadap kelangsungan bisnis serta rantai pasok mereka.***

Share this article
euforia peluncuran ini turut dibayangi kekhawatiran akan potensi kenaikan harga ponsel generasi berikutnya, termasuk iPhone 17.