AYOJAKARTA.COM – Korban terdampak gempa bumi Cianjur tidak hanya fisiknya saja yang mengalami luka-luka tetapi bisa juga ada trauma yang terjadi dalam psikologisnya.
Para korban tidak hanya butuh perawatan secara fisik saja tetapi juga butuh pendampingan secara psikologis untuk mendapat trauma healing.
Selain terkena guncangan bencana alam, ada dampak psikologis yang dialami para korban terlebih bagi korban yang kehilangan orang terdekatnya.
Baca Juga: Cianjur Masih Diguncang Gempa Susulan hingga Sabtu Dini Hari
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube tvOneNews, menurut Ajeng Raviando sebagai Psikolog, bahwa para korban butuh pendampingan agar dapat merasakan saluran empati dari orang lain.
“Jadi untuk bisa menangani trauma secara psikologis tentunya mereka butuh didampingi, butuh mengetahui bahwa ada beberapa orang yang peduli dan punya empati terhadap apa yang mereka rasakan,” ujar Ajeng, dikutip AyoJakarta.com pada Sabtu, 26 November 2022.
Pendampingan sangat penting dilakukan untuk dapat membantu para korban bangkit secara psikososial dan juga krisis emosi.
Baca Juga: Update Terbaru Jumlah Korban Meninggal yang Telah Ditemukan Akibat Gempa dan Longsor di Cianjur
“Pada akhirnya mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri, ada banyak orang-orang yang mau berempati dengan mereka, akan membantu mereka. Sehingga hal tersebut akan membantu mereka secara psikososial untuk bisa sedikit demi sedikit menghilangkan ketakutan maupun krisis emosi,” kata Ajeng.
Akan ada tingkat trauma berbeda-beda yang dialami oleh masing-masing korban gempa ini bisa dilihat dari reaksi para korban.
Terdapat banyak orang yang sulit untuk melepaskan diri dari kejadian bencana alam tersebut seperti reaksi emosional yang cukup besar dengan terus-terusan menangis.
Ada korban yang terlihat depresi dan membuatnya tidak bisa beraktivitas dengan normal seperti mogok makan dan minum.
“Ada beberapa orang terdampak secara ringan, ada yang sedang maupun yang berat. Sehingga kita bisa lihat dari reaksi orang tersebut saat menghadapi kondisi-kondisi yang terjadi,” ungkap Ajeng.
Ajeng Raviando pun menanggapi adanya kabar tentang seorang anak kecil yang terjebak puing-puing selama 3 hari dan masih bisa diselamatkan.
Namun saat diselamatkan ternyata posisinya bersebelahan dengan neneknya yang meninggal akibat gempa, begitu juga dengan ibunya yang tidak selamat.
Menurut Ajeng, anak tersebut butuh penanganan khusus dan pendampingan dari orang dewasa agar bisa kembali kepada kondisi normal.
Baca Juga: Ceritakan Eril Hingga Menahan Tangis, Ridwan Kamil Perkuat Semangat Korban Gempa Cianjur
Karena selain karena bencana alam, anak tersebut juga ditinggalkan oleh orang terdekatnya di usia yang masih dini.
“Karena buat saya melihat kondisi anak ini tentunya butuh penanganan yang khusus ya, terutama apakah dia bisa mengatasi trauma-trauma yang dia alami selama 3 hari tertimpa dan tidak bisa melakukan banyak hal,” kata Ajeng.
Hal ini dilakukan agar tidak ada dampak jangka panjang negatif yang akan mengganggu si anak. Tidak hanya untuk anak tersebut saja, diharapkan trauma healing bisa didapatkan oleh semua korban gempa untuk membantu para korban bangkit.***

Share this article
Korban terdampak gempa bumi Cianjur tidak hanya fisiknya saja yang mengalami luka-luka tetapi bisa ada trauma dalam psikologisnya.