AYOJAKARTA.COM – Sejak kabar gugatan perceraian yang dilayanngkan Anne Ratna Mustika kepada Dedi Mulyadi.
Berita terkait renggangnya hubungan Ratna Mustika bersama Dedi Mulyadi sebagai pasangan suami istri kerap menjadi konsumsi.
Terlebih status Anne Ratna Mustika serta Dedi Mulyadi yang keduanya sama-sama memiliki peran penting sebagai pejabat publik.
Maka tidak mengherankan jika setiap pergerakan keduanya acap kali mendapat penilaian lebih spesifik dari masyarakat yang mereka pimpin.
Kiranya itu jugalah yang kemudian melatar belakangi dinamika sosial dalam bermasyarakat pedesaan, khususnya di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Purwakarta yang sempat dipimpin Dedi Mulyadi sebelum digantikan oleh Anne Ratna, adalah wilayah yang merasakan dampak perselisihan dari rumah tangga keduanya.
Sehingga kesan adanya friksi atau perpecahan antara para pendukung Ambu Anne dengan Kang Dedi akibat gugatan perceraian tersebut menjadi sulit dihindari.
Hal tersebut bisa terlihat ketika acara Gempungan atau pertemuan akan digelar di Desa Gardu, Kecamatan Kiara Pedes.
Baca Juga: Duh, Saksi Ahli Hukum Pidana Sebut Ferdy Sambo CS Akan Bebas Dengan Mudah Jika Hal Ini Terjadi!
Dimana sebelum acara tersebut terselenggara, pertemuan yang dihadiri para kepala desa ini justru diwarnai dengan aksi pemboikotan.
Hal semacam itu juga terjadi saat digelarnya acara gempungan di Desa Pasanggrahan, yang hanya dihadiri sebagian kepala desa.
Sementara di saat bersamaan, para kepala desa justru berkumpul di Purwakarta bersama Dedi Mulyadi.
Pada Rabu, 28 Desember 2022 sebanyak 600 aparat desa di kecamatan Kiara Pedes berkumpul di desa Cibeber dalam acara apel desa.
Baca Juga: Segera Tiba! Bulan Puasa Tahun 2023 Berapa Hari Lagi? Berikut Perkiraan Awal Ramadhan 1444 Hijriah
Pertemuan yang diorganisir oleh Dewan Pimpinan Kecamatan Apdesi Kiara Pedes tersebut sempat menyeret nama Anwar Sadad sebagai penggagas acara.
Selain tercatat sebagai kepala desa Cibeber, Anwar Sadad yang menjabat sebagai Sekjen Nasional DPP Apdesi merupakan loyalis Dedi Mulyadi.
Pengerahan 600 aparat desa dalam apel tersebut, awalnya dikabarkan untuk melakukan aksi protes terhadap Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika.
Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan Pemkab Purwakarta yang dinilai tidak objektif dalam memberi penilaian kepada desa-desa.
Baca Juga: Susno Duadji Beri Kesimpulan: Saya yakin Ferdy Sambo adalah Otak Kasus Kematian Brigadir J
Minimnya apresiasi yang dilakukan Bupati serta berkurangnya alokasi dana desa, digadang sebagai penggerak utama lahirnya apel tersebut.
Namun setelah dilakukan penelusuran lebih mendalam, kabar pengerahan para aparat desa tersebut rupanya tidak benar.
Dalam orasi yang disampaikan Anwar Sadad pada pertemuan tersebut, dirinya mengajak agar orang desa mampu mengolah sumber daya untuk kepentingan warganya.
Demikian seperti dirangkum Ayojakarta pada Senin, 2 Januari 2023 dari kanal Youtube Dulur Rahayu. ***

Share this article
Hal tersebut bisa terlihat ketika acara Gempungan atau pertemuan akan digelar di Desa Gardu, Kecamatan Kiara Pedes.