AYOJAKARTA.COM – Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Nabi Muhammad mengabarkan Islam adalah Isra Miraj.
Isra Miraj adalah peristiwa yang di luar akal manusia saat itu dan mungkin juga sampai sekarang.
Bagaimana Rasulullah bergerak pulang pergi dari Masjidil Haram di Mekkah menunju Masjidil Maqdis di Palestina, lalu terbang menembus tujuh lapis Langit sampai ke Sidratul Muntaha lalu kembali ke Mekkah hanya dalam waktu sehari semalam?
Tidak heran, ketika kabar Nabi Muhammad melakoni Isra Miraj terdengar oleh banyak orang, Rasulullah lantas menjadi bahan olok-olokan kaum kafir Quraisy. Bahkan, orang yang sudah memeluk Islam yang ketika itu baru berkembang, menjadi keluar lagi dari agama yang dibawa Nabi Muhammad itu.
Hadits menjelaskan seorang Abu Bakar sebagai sahabat Nabi lah yang meyakini seratus persen cerita Rasulullah menjalani Isra Miraj.
Lantas bagaimana orang pada zaman modern ini memandang peristiwa Isra Miraj?
Pandangan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Purwanto yang juga Guru Besar Fisika Teori di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Agus Purwanto, mungkin bisa menambah wawasan umat Islam.
Baca Juga: Ustaz Abdul Somad Ceritakan Momen Besar di Bulan Rajab: Isra Miraj Peristiwa Penting di Mana...
Menurut Agus Purwanto, tidak sedikit ilmuwan yang mengaitkan Teori Relativitas Khusus dari Albert Einstein untuk menjelaskan peristiwa paling penting dalam sejarah ini yang diabadikan dalam QS. Al Isra ayat 1 dan QS. An Najm ayat 13-18.
Dalam pandangan Agus Purwanto, dengan menggunakan Teori Relativitas Khusus Einstein berarti mengatikan Isra Miraj dengan konsep dilatasi atau pemuluran waktu.
Oleh karena perjalanan Nabi bersama dengan malaikat Jibril, maka kecepatan kendaraan yang dipakai Nabi Saw setara kecepatan cahaya yaitu 300.000 km/detik.
Seandainya Miraj terjadi dari pukul 20.00 hingga 04.00, berarti perjalanan dari Bumi menembus tujuh lapis Langit kemudian kembali lagi ke Bumi berdurasi 8 jam.
Buat Agus Purwanto, hal itu mustahil. Menurut dia, jika kecepatan Rasulullah bersama Jibril setara dengan kecepatan cahaya, maka Nabi belum keluar dari sistem Tata Surya.
Dengan waktu perjalanan Nabi, jika dikalikan dengan kecepatan cahaya 300.000 km/detik, akan dihasilkan jarak tempuh sejauh 4.320.000.000 km dari bumi.
Dengan hasil itu, menurut Agus Purwanto, perjalanan Nabi baru mencapai planet Neptunus, planet terluar dari sistem tata surya. Artinya membutuhkan sekitar 4.4 tahun kecepatan cahaya hanya untuk sampai menuju alfancentauri.
Oleh karena itu, dalam pemikiran Agus Purwanto, penjelasan peristiwa Miraj menggunakan teori Relativitas Khusus Einstein belum memadai.
Belum lagi, katanya, ada fakta bahwa tidak ada materi yang bermassa yang bisa secepat cahaya. Cahaya dapat bergerak cepat karena pada dasarnya adalah gelombang elektromagnetik.
Artinya, menurut ilmuwan Muhammadiyah itu, hanya malaikat dan ruh saja yang bisa memiliki kecepatan 300.000 km per detik.
Baca Juga: Rahasia Pintu Rezeki Dalam Al Quran: Menurut Quraish Shihab Inilah Kuncinya
Baca Juga: Nasihat Quraish Shihab: Tuhan Itu Tidak Bertanya 5 + 5 Itu Berapa, Tetapi 10 Itu Berapa
“Karena ini bicara sains, akan terjadi pembengkakan massa yang besar sekali, dengan kata lain kalau Nabi Saw secepat kecepatan cahaya tubuhnya akan meledak. Karenanya hentikan penjelasan peristiwa Isra’ Miraj ini dengan pendekatan Relativitas Khusus Einstein,” ujar Agus Purwanto dalam kajian yang diselenggarakan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta pada Sabtu (26 Februari 2022).
Teori Relativitas Umum Einstein
Jika merujuk pada QS. Al Isra ayat 1 dan QS. An Najm ayat 13-18, kata Agus, terdapat tiga kunci yang ada pada peristiwa Isra Miraj yaitu: asra’, ‘abdi, dan layl.
Asra’ adalah memperjalankan, memindahkan materi dari satu tempat ke tempat lain. Tempat menyatakan satu titik dalam ruang sehingga asra’ terkait dengan ruang beserta atributnya.
‘Abdi menunjuk pada hamba pilihan-Nya yakni Rasulullah yang meliputi jiwa, raga, jasmani dan ruhani. Layl mewakili waktu.
Petunjuk itu, menurut Agus Purwanto, mengantarkan pada struktur jagad raya yaitu sifat ruang-waktu-cahaya yang tidak lain adalah teori Relativitas Umum Einstein.
Teori Relativitas Umum Einstein memandang ruang dan waktu tidaklah ajeg, melainkan merupakan fenomena yang fleksibel, relatif, dan dinamis seperti proses alam semesta lainnya.
“Jadi menurut Einstein jagat raya kita itu melengkung,” ujar Agus.
Selain jagat raya itu melengkung, alam semesta juga terus mengembang. Pendapat ini pertama kali diungkapkan oleh Edwin Hubble.
Baca Juga: Wasiat Kiai Maimoen Zubair: Mbah Moen Pesan 10 Hal Ini, Nomor 2 Makjleb
Di masa lalu, alam semesta begitu kecil, padat, dan panas. Sebagaimana balon yang diisi udara, alam semesta kemudian mengembang, membesar, dingin, dan jarak antar galaksi dan materi di dalamnya pun semakin menjauh satu sama lainnya.
Jika alam semesta diibaratkan balon, maka permukaan bola itulah ungkapan ruang lengkung dua dimensi. Artinya masih ada dimensi lain, yaitu alam immaterial yang keberadaannya di luar ruang dan waktu alam semesta.
Maka dari itu, tak heran jika perjalanan Miraj yang menembus beberapa lapis langit tersebut, bisa berlangsung dalam waktu yang relatif sangat singkat karena keberadaannya bukan lagi di alam semesta melainkan berada di ‘ruang ekstra’ alias alam immaterial.
“Jadi perjalanan Rasulullah itu menembus dimensi yang lebih tinggi yaitu langit yang ghaib. Ini sudah berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan,” tegas Agus Purwanto seperti termuat dalam artikel bertajuk Memahami Peristiwa Isra’ Mi’raj dengan Teori Relativitas Umum Einstein di laman muhammadiyah.or.id.

Share this article
Peristiwa Isra Miraj kerap dihubungkan dengan Teori Relativitas Einstein. Simak penjelasan ulama sekaligus pakar fisika Muhammadiyah ini