AYOJAKARTA.COM - Dalam perhitungan kalender Jawa, sebentar lagi kita akan memasuki bulan Suro yang selalu dianggap keramat oleh sebagian masyarakat khususnya Pulau Jawa.
Malam 1 Suro sendiri bertepatan dengan Tahun Baru Islam yaitu 1 Muharram yang diperingati oleh seluruh umat Islam.
Keduanya memiliki arti yang sama yakni penanda datangnya awal tahun baik menurut kalender Jawa maupun dalam kalender Islam.
Baca Juga: Inilah 3 Larangan dan Pantangan Malam 1 Suro yang Dipercaya Masyarakat Jawa dan Penganut Kejawen
Lalu mengapa malam 1 Suro dianggap keramat oleh masyarakat?
Dalam kepercayaan masyarakatnya khususnya Pulau Jawa, di malam 1 Suro adalah sebuah malam keramat apalagi jika jatuh di hari Jumat.
Pada malam 1 Suro, masyarakat Jawa percaya bahwa banyak setan, jin, lelembut dengan berbagai macam jenis seperti pocong, genderuwo, kuntilanak dan sebagainya keluar di malam tersebut untuk datang ke alam manusia.
Sehingga karena alasan itulah masyarakat Jawa percaya banyak pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar seperti keluar rumah, bepergian, membangung rumah, pindah rumah dan beberapa pantangan lainnya.
Yang apabila pantangan tersebut dilanggar maka dipercaya akan mendatangkan kesialan bagi pelanggarnya.
Tradisi Malam 1 Suro
Selain kepercayaan terhadap malam yang keramat tersebut, masyarakat Jawa khususnya selalu melakukan tradisi di malam tersebut.
Pada malam 1 Suro, masyarakat percaya bahwa ada kedatangan Aji Saka di malam tersebut.
Adapun kedatangannya ini akan membawa misi untuk membebaskan masyarakat Tanah Jawa dari segala marabahaya.
Lantas pemahaman tersebut dipercaya turun temurun oleh kebanyakan masyarakat Jawa.
Dan situlah muncul adat tradisi budaya Jawa yang erat kaitannya dengan malam 1 Suro.
Ada beberapa daerah di Pulau Jawa yang selalu melakukan tradisi di malam 1 Suro seperti di Solo, Jogja, Banyuwangi, Jember dan lainnya.
Pada tradisi malam 1 Suro di Solo akan melibatkan sebuah hewan ternak berupa kerbau yang memiliki warna putih atau biasa disebut Kebo Bule.
Kebo Bule ini dianggap oleh warga Solo sebagai hewan yang keramat.
Berbeda dengan Solo, di Jogja sendiri pada tradisi menyambut malam 1 Suro, biasanya akan diadakan kirab pusaka.
Masyarakat akan membawa benda pusaka seperti keris, dan benda pusaka lainnya sebagai bagian dari iring-iringan kitab tersebut.
Acara tradisi kirab pusaka ini juga diikuti oleh para abdi dalem keraton yang juga membawa gunungan hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng dan sajian khas.
Baca Juga: Pantangan Malam 1 Suro Menurut Kepercayaan Adat Jawa dan Mitos yang Menyelimutinya
Meskipun memiliki tradisi-tradisi yang dipercaya tersebut, masyarakat tetap pada dasarnya melakukan hal tersebut semata hanya untuk mendapat ketentraman hati dan keselamatan.
Oleh karena itu, tak hanya berisi tradisi, pada malam 1 Suro masyarakat juga akan melakukan doa bersama oleh masyarakat yang hadir dalam acara tersebut.
Sebenarnya, masyarakat Jawa sendiri pada malam satu suro umumnya akan selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melakukan kebaikan sepanjang bulan Suro.
Oleh karena itu, mereka menganggap jika Suro terutama malam satu Suro adalah hari keramat.
Nah itulah informasi mengenai alasan mengapa malam 1 Suro dianggap keramat dan tradisi yang menyertainya.***

Share this article
Banyak tradisi budaya Jawa dari hewan keramat hingga keris pusaka saat satu suro. Mengapa malam 1 suro dianggap keramat?