AYOJAKARTA.COM – Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas pada 25 Oktober 2024, persaingan elektabilitas Pilgub Jakarta terjadi antara paslon nomor urut 1 dan 3.
Unggul dengan jumlah dukungan mencapai 38,3 persen, elektabilitas pasangan Pramono Anung-Rano Karno kini menempati urutan paling atas di Pilgub Jakarta.
Sementara pasangan Rido yang sempat menempati puncak di sejumlah survei Pilgub Jakarta, kini justru mengalami penurunan dengan perolehan 34,6 persen.
Sehubungan hasil survei Pilgub Jakarta yang dirilis Litbang Kompas, Ahmad Khoirul Umam selaku analis politik dari Universitas Paramadina memberi tanggapan.
Baca Juga: Hebat! Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Triwulan III Tahun 2024 Tumbuh Pesat, Ini yang Paling Dominan
Menurut Umam, hasil survei pasangan Rido yang saat ini mengalami penurunan merupakan indikasi minimnya sosialisasi di kalangan akar rumput.
Umam juga menilai perolehan elektabilitas pasangan Rido yang berada tipis di bawah Pramono-Rano menjadi isyarat politik serius bagi koalisi pendukungnya.
“Ini mengindikasikan bahwa konsolidasi di akar rumput belum mampu mensosialisasikan secara optimal,” jelas Ahmad Khoirul Umam dikutip ayojakarta.com dari YouTube KOMPASTV, Rabu (6/11/2024).
Karena itu hasil survei perolehan elektabilitas yang dirilis Litbang Kompas, menurut Umam tak berlaku linier dengan basis mesin politik pendukungnya.
Sedangkan hal berbeda namun signifikan justru berlaku sebaliknya terhadap pasangan Pramono-Rano yang hanya didukung sekitar 16 persen parpol.
Proyeksi terjadinya kemungkinan gap antara kalangan elit parpol dengan pendukung di akar rumput menurut Umam merupakan fenomena politik yang unik.
Menyikapi elektabilitas yang merosot, kepada awak media Ridwan Kamil berkomentar untuk tak perlu diperbandingkan karena setiap survei memiliki kecenderungan berbeda.
“Saya tidak bisa merespons terlalu detail, yang penting survei itu menjadi evaluasi,” jelas RK yang lebih memilih untuk konsisten berkampanye.
Berbeda tanggapan dengan RK, pasangan Dharma-Kun yang memperoleh elektabilitas 3,3 persen menurut Litbang Kompas menyerahkannya kepada publik untuk menilai.
Menempuh risiko sebagai anak tiri yang tak dibekali kekuatan untuk melakukan penawaran, Dharma memilih acuh atas penggiringan opini melalui survei.
Survei elektabilitas Pilgub Jakarta menurut Dharma memiliki transparansi minim karena publik tak mengetahui rincian sampel, pertanyaan dan pendanaan secara mendalam.
“Kami tidak punya kekuatan memengaruhi lembaga survei untuk menaikkan angka karena angka hanya ditulis, biarlah karena rakyat sudah cerdas,” ungkapnya.
Sementara menurut Pramono selaku cagub nomor urut 3, hasil survei tak memengaruhi keputusan untuk terus berkampanye dan menyosialisasikan program.
Rentang waktu yang tersisa sebelum memasuki masa tenang dan pencoblosan, menurut Pramono berpeluang membuat sebuah perubahan besar.
“Yang jelas dari survei itu terlihat apa yang kami lakukan sudah berada di jalur tepat, on the right track,” pungkasnya.***
Share this article
Begini komentar RK dan Dharma Pongrekun soal hasil survei elektablitas Pilgub Jakarta dari Litbang Kompas.