AYOJAKARTA.COM — Pengamat politik Adi Prayitno menanggapi kritik yang dilontarkan Anies Baswedan mengenai partai politik yang tersandera oleh kekuasaan.
Menurut Adi, kritik Anies memang relevan, terutama jika melihat dinamika politik saat ini, di mana beberapa partai berpotensi untuk bergabung dengan koalisi pendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam lima tahun ke depan.
Adi menjelaskan bahwa partai politik tidak bisa lepas dari kekuasaan, terutama jika mereka ingin menjadi bagian dari pemerintahan di masa mendatang.
"Jika Anies menganggap bahwa partai-partai ini tersandera kekuasaan, maka itu adalah sandera yang, menurut saya, dilakukan secara ikhlas dan tanpa paksaan. Partai-partai ini secara sadar memilih untuk merelakan diri menjadi bagian dari kekuasaan demi kepentingan politiknya," ungkap Adi, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Selasa, 3 September 2024.
Dia juga menambahkan bahwa keputusan partai untuk tidak mendukung Anies Baswedan bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan sebagai bentuk tekanan atau ancaman dari kekuasaan.
"Partai-partai ini tentu sudah mengkalkulasi untung rugi bagi mereka. Jika mendukung Anies, mungkin mereka hanya akan berperan di level lokal seperti Jakarta, tetapi tidak memiliki pengaruh di tingkat nasional selama lima tahun ke depan. Maka dari itu, bergabung dengan kekuatan politik yang lebih besar, seperti koalisi Prabowo-Gibran, menjadi pilihan strategis," lanjut Adi.
Selain itu, Adi mengomentari spekulasi yang menyebutkan adanya ancaman internal di partai-partai tertentu jika mereka tidak mendukung Anies.
Menurutnya, PKS, NasDem, dan PKB relatif aman dari potensi ancaman internal seperti mundurnya ketua umum atau munculnya partai tandingan.
"Isu-isu seperti munaslub atau KLB tidak terlihat mengancam stabilitas partai-partai ini. Jadi, saya kira definisi tersandera kekuasaan yang dimaksud perlu dijelaskan lebih lanjut," tambah Adi.
Baca Juga: Gagal 2 Kali Maju Pilgub 2024, Anies Baswedan Buka Suara Alasan Memilih Mundur, Ternyata...
Lebih lanjut, Adi juga menyinggung adanya informasi yang beredar bahwa Anies Baswedan diminta untuk bergabung dengan PDI Perjuangan sebagai kader guna mendapatkan komitmen politik yang lebih kuat.
Namun, konon tawaran tersebut ditolak oleh Anies. Adi menilai, penolakan ini bisa dipahami dalam konteks kepentingan khusus yang sering kali dikaitkan dengan partai politik besar.
Adi juga mengingatkan bahwa Anies dan para pendukungnya seharusnya tidak menyalahkan partai-partai politik jika mereka tidak mengusungnya sebagai calon gubernur Jakarta.
"Anies bukan kader partai seperti PKB, PDIP, atau PKS. Jadi, jika mereka tidak mendukungnya, itu bukan hal yang perlu dikutuk. Anies adalah outsider dalam politik, sehingga tidak bisa menuntut lebih dari partai politik," jelas Adi.
Baca Juga: Politisi Partai Gerindra Soroti Pendapat Anies Baswedan Soal 'Parpol Tersandera Kekuasaan'
Adi menyarankan agar jika Anies serius dalam karir politiknya, mendirikan partai politik sendiri adalah pilihan yang patut dipertimbangkan.
"Banyak tokoh hebat di Indonesia yang akhirnya mendirikan partai politik mereka sendiri ketika mereka tidak memiliki cantolan politik tetapi bercita-cita menjadi presiden. Itu adalah langkah yang patut diapresiasi jika Anies memilih jalan yang sama," pungkas Adi.***

Share this article
Pengamat politik Adi Prayitno menanggapi kritik yang dilontarkan Anies Baswedan mengenai partai politik yang tersandera oleh kekuasaan.