AYOJAKARTA.COM – Meski dukungan ke Anies Baswedan untuk berlaga di Pilkada Jakarta sudah dinyatakan Partai Nasdem, namun hal tersebut belum sepenuhnya mengikat.
Perubahan politik yang intens, serta adanya decision maker yang dijuluki para dewa membuat langkah Anies Baswedan menuju Pilkada Jakarta belum sepenuhnya aman.
Berdasar pada dua variabel tersebut, keikutsertaan Partai Nasdem untuk terus mendukung Anies Baswedan masih belum sepenuhnya mulus.
Perspektif dari Bendahara Umum Partai Nasdem Roni Sahroni tersebut, mencuat usai adanya kabar bahwa Anies akan mendapat dukungan dari PDIP.
Pernyataan Roni terkait fluktuasi dukungan terhadap Anies Baswedan, membuat banyak kalangan terperanjat.
Sebagian kalangan awam menilai, munculnya potensi dukungan dari PDIP terhadap Anies merupakan indikasi adanya ketidak cocokan antara PDIP dengan Nasdem.
Sehubungan dengan adanya penilaian tersebut, Pengamat Politik Universitas Al Azhar Ujang Komarudin memberi tanggapan.
Menurut Ujang, pernyataan Bendahara Partai Nasdem terkait dukungan terhadap Anies merupakan hal yang wajar dalam catur politik karena tidak ada makan siang gratis.
“No free lunch, tidak ada yang ikhlas meski seminggu yang lalu Nasdem memberi dukungannya kepada Anies untuk maju,” jelasnya, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Kamis, 1 Agustus 2024.
Substansi pernyataan Roni , menurut Ujang memiliki makna intrinsik yang dapat diterjemahkan dalam perspektif politik.
Selain karena dinilai sudah melebihi garis demarkasi yang mungkin sudah ditentukan Nasdem atau offside, Anies juga bukan mustahil dianggap kurang berkomunikasi.
“Mungkin offside atau kurang komunikasi, sehingga tidak ada asap dan tidak ada api Pak Sahroni menyatakan hal itu,” imbuhnya.
Lebih lanjut Ujang menilai, pernyataan Roni Sahroni bukan persoalan sederhana.
Karena pernyataan seorang Bendahara Umum bisa merupakan indikasi suara yang datang dari Partai Nasdem secara keseluruhan.
“Saya meyakini itu sikap dari Surya Paloh, dari partai, dan tidak ada yang salah dari pernyataannya Sahroni tersebut,” tegas Ujang.
Kecenderungan koalisi politik yang umumnya berlaku di Indonesia, menurut Ujang tidak dapat dilihat dari titik awal melainkan pada ujung garis finis.
Dukungan salah satu partai di awal, dalam percaturan politik di Indonesia bisa berubah pada bagian tengah sehingga selalu bagian ujung yang cenderung menjadi hasil akhir.
Untuk memberikan dukungan terhadap salah satu kandidat cagub atau cawagub di Pilkada Jakarta, menurut Ujang setiap parpol melakukan kalkulasi.
“Meski peluang Anies untuk menang itu tinggi, tetapi apa yang akan didapat oleh partai?” pungkas Ujang.***

Share this article
Munculnya potensi dukungan dari PDIP terhadap Anies merupakan indikasi adanya ketidak cocokan antara PDIP dengan Nasdem.