AYOJAKARTA.COM -- Berdasarkan data terbaru mengenai kondisi sosial ekonomi kepala rumah tangga (KRT) perempuan di Jakarta, mayoritas dari mereka tinggal di rumah milik sendiri, dengan angka mencapai 68,99%.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar KRT perempuan di Jakarta memiliki hunian yang mereka miliki secara pribadi, meskipun pada saat yang sama banyak dari mereka yang masih masuk dalam kategori ekonomi menengah ke bawah.
Data menunjukkan ada empat kategori status kepemilikan rumah yang diidentifikasi pada KRT perempuan, yakni rumah milik sendiri, kontrak atau sewa, bebas sewa (termasuk rumah warisan), dan rumah dinas.
Selain yang memiliki rumah sendiri, sebanyak 14,72% KRT perempuan tinggal di rumah kontrakan atau sewa, 15,05% menempati rumah bebas sewa seperti rumah warisan, dan hanya 1,24% yang menempati rumah dinas.
Jika dibandingkan dengan keseluruhan rumah tangga di Jakarta, persentase KRT perempuan yang tinggal di rumah milik sendiri lebih tinggi.
Untuk rumah tangga secara umum, hanya sekitar 56,57% yang memiliki rumah sendiri, lebih rendah dibandingkan KRT perempuan yang mencapai 68,99%.
Di antara wilayah di Jakarta, Kepulauan Seribu mencatatkan persentase tertinggi untuk KRT perempuan yang memiliki rumah sendiri, yakni 86,07%.
Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi di wilayah tersebut, di mana sebagian besar penduduk adalah warga setempat yang sudah lama tinggal di sana, sehingga kebutuhan akan rumah kontrakan atau sewa relatif rendah.
Sebaliknya, KRT perempuan di Jakarta Utara memiliki persentase tertinggi untuk rumah kontrakan atau sewa, yaitu 23,01%.
Selain kepemilikan rumah, luas lantai hunian juga menjadi indikator penting dalam melihat kondisi ekonomi KRT perempuan.
Mayoritas dari mereka, yakni 30,91%, tinggal di rumah dengan luas lantai 20-49 m², diikuti dengan 30,14% yang tinggal di rumah berukuran 50-99 m².
Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Ini yang Wajib Kamu Kunjungi Saat Berkunjung ke Jakarta
Jika digabungkan, lebih dari 71% KRT perempuan menempati rumah dengan luas lantai di bawah 100 m².
Kepulauan Seribu memiliki angka tertinggi untuk hunian dengan luas di bawah 100 m² bagi KRT perempuan, mencapai 90%.
Sebaliknya, Jakarta Timur mencatatkan persentase tertinggi untuk KRT perempuan yang tinggal di rumah seluas 100 m² atau lebih, yaitu 39,31%.
Indikator sosial ekonomi lainnya yang relevan adalah kepemilikan aset.
Aset yang paling banyak dimiliki oleh KRT perempuan adalah sepeda motor dengan persentase 63,85%.
Baca Juga: BPS Bongkar Persentase Kepala Rumah Tangga Perempuan di Jakarta, Terbanyak Ternyata Daerah Ini!
Disusul oleh kepemilikan lahan atau tanah sebesar 52,95% dan televisi flat berukuran minimal 30 inci sebesar 43,19%.
Namun, aset seperti mobil dan water heater masih jarang dimiliki, dengan persentase kepemilikan masing-masing sebesar 13,99% dan 4,01%.
Berdasarkan kondisi tersebut, sebagian besar KRT perempuan di Jakarta tampaknya masih tergolong dalam kategori menengah ke bawah.
Ini menjadi data penting bagi pemerintah dalam merancang program-program intervensi guna meningkatkan kesejahteraan KRT perempuan.
Hal tersebut untuk memastikan akses mereka terhadap fasilitas perumahan dan meningkatkan kepemilikan aset yang dapat menunjang kualitas hidup mereka.***

Share this article
Jika dibandingkan dengan keseluruhan rumah tangga di Jakarta, persentase KRT perempuan yang tinggal di rumah milik sendiri lebih tinggi.