AYOJAKARTA.COM - Jakarta telah mencatat prestasi yang luar biasa dalam mengatasi masalah kemacetan yang selama puluhan tahun menjadi momok bagi warganya.
Menurut TomTom Traffic Index 2024, Jakarta berhasil melonjak dari posisi peringkat 30 dunia pada tahun 2023 menjadi peringkat 90 dunia di tahun 2024, yang artinya tingkat kemacetan Jakarta turun drastis dan tidak lagi masuk dalam daftar 50 kota termacet di dunia.
Waktu perjalanan di Jakarta setiap 10 kilometer kini membutuhkan sekitar 25 menit 31 detik, yang ternyata lebih baik dibanding New York yang berada di peringkat 25 dunia dengan waktu tempuh serupa.
Baca Juga: Wajib Tahu! Jadwal Penting 18 Agustus 2025 untuk Penerima PKH BPNT dan Status Bantuan Lainnya
Pencapaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari investasi besar-besaran pemerintah DKI Jakarta dalam membangun infrastruktur transportasi umum yang terintegrasi.
Seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan Mikrotrans, serta upaya konsisten untuk mengajak warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.
Salah satu kunci sukses perbaikan mobilitas Jakarta adalah digitalisasi sistem informasi transportasi yang memudahkan warga untuk mengakses dan merencanakan perjalanan mereka.
Fitur Transportasi Publik di aplikasi JAKI merupakan hasil kolaborasi dengan PT JakLingko yang menyediakan informasi lengkap mengenai rute, jadwal, dan tarif untuk MRT Jakarta, LRT Jakarta, TransJakarta, dan Mikrotrans—sejak 2022, fitur ini telah dikunjungi pengguna sebanyak 635.504 kali.
Baca Juga: Bantuan Insentif Guru Non ASN Cair Kapan? Pahami Ketentuannya
Aplikasi ini memberikan kemudahan luar biasa bagi warga karena mereka tidak perlu lagi membuka multiple aplikasi atau bingung mencari informasi transportasi umum.
Sistem integrasi melalui kartu dan aplikasi JakLingko telah menyatukan pembayaran untuk Commuter Line, LRT, MRT, dan TransJakarta dalam satu platform, membuat perpindahan antar moda transportasi menjadi seamless dan efisien.
Digitalisasi ini juga mendukung konsep "smart mobility" dimana warga dapat merencanakan perjalanan dengan akses informasi real-time tentang jadwal, rute tercepat, dan estimasi waktu tempuh.
Keberhasilan Jakarta menurunkan tingkat kemacetan dari 53% menjadi 43% dalam waktu singkat membuktikan bahwa perubahan besar bisa terwujud ketika ada sinergi antara infrastruktur yang memadai, teknologi yang mendukung, dan partisipasi aktif masyarakat. Namun, pencapaian ini harus terus dijaga dan ditingkatkan melalui komitmen kolektif semua pihak.
Baca Juga: 3 Agenda Seru Meriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia, Mulai dari Merdeka Run hingga Pesta Rakyat
Dengan terus menggunakan transportasi umum dan memanfaatkan fitur #bikingampang di JAKI untuk mengecek rute perjalanan, setiap warga Jakarta berkontribusi langsung terhadap pengurangan emisi karbon, penghematan biaya bahan bakar, dan peningkatan kualitas udara di ibu kota.
Selain itu, semakin banyak warga yang beralih ke transportasi umum, semakin efektif pula sistem transportasi massal ini dalam melayani kebutuhan mobilitas 10 juta penduduk Jakarta.
Mari bersama-sama menjaga momentum positif ini dan membuktikan bahwa Jakarta tidak hanya bisa lepas dari label "kota termacet", tetapi juga menjadi role model bagi kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara dalam hal smart mobility dan sustainable transportation.***

Share this article
Jakarta turun dari kota termacet ke peringkat 90 dunia berkat transportasi publik terintegrasi, digitalisasi, dan partisipasi warga.