AYOJAKARTA.COM - Sebuah fakta menarik terungkap di sidang lanjutan kasus pembunuhan terhadap Brigadir J yang digelar pada hari Rabu (14/12/2022).
Setelah sekian lama menjadi pertanyaan, akhirnya hasil dari pemeriksaan lie detector atau poligraf diungkap ke publik.
Pengungkapan hasil pemeriksaan lie detector ini dilakukan oleh ahli poligraf yang hadir dalam sidang yang digelar hari ini.
Baca Juga: Berbeda dengan Indra Kenz, Doni Salmanan Bebas dari Kewajiban Ganti Rugi, Hotman Paris: What? Why?
Diktetahui bahwa ahli poligraf atau pemeriksa lie detector tersebut sebelumnya melakukan pengujian terhadap para terdakwa pembunuhan Brigadir J, yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Kuat Ma’ruf, dan Ricky Rizal.
Dari hasil tersebut, diketahui bahwa ada tiga terdakwa yang terindikasi berbohong karena skor uji poligraf mereka menyentuh angka minus.
Sementara itu, Putri Candrawathi mendapatkan skor tes poligraf yang paling buruk di angka -25.
Berkaitan dengan hal tersebut, Agung Prasetya, perwakilan dari Asosiasi Poligraf Indonesia buka suara tentang kebenaran tes poligraf atau tes kejujuran dari para terdakwa kasus Brigadir J.
Dikutip AyoJakarta dari sebuah acara yang tayang di kanal YouTube metrotvnews, Agung menjelaskan tentang teknik dan metode, sekaligus pertanyaan yang diajukan hingga Putri Candrawathi mendapatkan skor -25.
“Jadi sebetulnya di dalam poligraf itu ada 3 hasil. Yang pertama itu adalah NDA ( Non Deception Indication) alias jujur, kemudianyang kedua adalah Deception Indication alias bohong, yang ketiga adalah inkonklusif atau nilai yang tidak dapat disimpulkan,” jelas Agung Prasetya.
Ia kemudian menyampaikan, bahwa dalam penentuan skor poligraf, ada beberapa teknik yang bisa dilakukan, termasuk teknik yang ia gunakan adalah ESS.
“Untuk menentukan scoring itu sebenarnya mempunyai beberapa teknik. Tapi, teknik yang kita gunakan itu adalah yang namanya ESS atau Empirical Scoring System yang nilai keakurasiannya itu lebih tinggi ketimbang teknik skoring yang lain,” ujarnya.
“Nah, kalau untuk ESS sendiri, itu nilai cut skornya untuk menentukan apakah dia berbohong itu adalah -4 sampai berapapun,” tambahnya.
“Kalau menentukan dia jujur atau NDA itu +2 sampai berapapun,” tambahnya sekali lagi.
Baca Juga: Jelang Final Piala Dunia 2022, Antoine Griezmann Tekankan Lionel Messi
Pembawa acara kemudian bertanya kepada Agung, tentang jenis pertanyaan yang diajukan kepada Putri Candrawathi dan terdakwa lainnya dalam tes poligraf tersebut.
Tak main-main, Agung mengungkapkan bahwa ada 11 pertanyaan yang diajukan dalam kategori yang berbeda-beda.
“Sebetulnya seperti yang disampaikan dalam persidangan bahwa kita menggunakan teknik yang namanya CCT. Ada 11 pertanyaan, ada pertanyaan introduction, kemudian ada sacrifice relevan, ada netral, ada kontrol, ada relevan, kemudian diulangi lagi,” jelas Agung.
Kemudian, ia menjelaskan bahwa penyidik juga akan mengajukan permintaan pertanyaan kepada terdakwa atau subjek tes.
“Dari pihak penyidik mereka ada permintaan. Permintaan itu yang akan dibaca oleh tim poligraf apakah permintaan itu dapat dilakukan untuk poligraf atau tidak,” ungkapnya.
Dari semua pertanyaan yang diajukan penyidik, tim poligraf kemudian akan menyusun pertanyaan lain hingga menjadi sebuah kesatuan dan akan dipertanyakan kepada subjek.***

Share this article
Dari hasil tersebut, diketahui bahwa ada tiga terdakwa yang terindikasi berbohong karena skor uji poligraf mereka menyentuh angka minus.