AYOJAKARTA.COM - Anies Baswedan memiliki utang Rp50 miliar kepada Sandiaga Uno.
Utang sebesar Rp50 miliar ini buntut dari perjanjian politik saat akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta pada pemilihan Gubernur tahun 2017 silam.
Selain utang sebesar Rp50 miliar itu, Ia juga memiliki perjanjian politik dengan wakilnya, yaitu Sandiaga Uno.
Kabar ini beredar setelah sebelumnya ini Sandiaga Uno membongkar soal adanya perjanjian antara Anies Baswedan, dirinya dan Prabowo Subianto, ketua umum partai Gerindra.
Baca Juga: Update Korban Gempa M7,8 Turki-Suriah, 514 Orang Meninggal Dunia, 3 WNI Dilaporkan Alami Luka Berat
Tak lama berselang, giliran Wakil Ketua Umum Golkar, Erwin Aksa angkat bicara.
Ia membocorkan bahwa Anies dan Sandi memiliki surat perjanjian politik pada gelaran Pilkada Jakarta 2017 silam dengan nilai Rp50 Miliar.
Kala itu, Erwin Aksa merupakan salah satu tim sukses pasangan Anies-Sandi di Pilkada Jakarta 2017.
Erwin mengatakan bahwa dirinya mengikuti drafting perjanjian itu. Ia juga melihat tanda-tangan kedua belah pihak di situ, yang dikutip Ayojakarta.com dari podcast Akbar Faizal Uncensored.
Dalam tayangan berjudul Nasdem Serahkan Diri ke Golkar, Erwin menuturkan bahwa penyusun utama surat perjanjian tersebut, adalah Anies Baswedan.
Erwin juga menambahkan bahwa Rikrik merupakan pengacara Sandiaga Uno.
Sebelumnya, Rikrik sempat diangkat sebagai komisaris Perumda Pasar Jaya, namun Rikrik belakangan dicopot sebelum masa jabatan berakhir oleh Anies Baswedan.
Ia juga secara singkat mengungkap isi perjanjian politik antara Anies dan Sandiaga Uno itu.
Bahwa Anies masih berhutang Rp50 miliar kepada Sandiga Uno. Utang tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan logistik Pilkada Jakarta 2017 silam dan hingga kini belum juga dilunasi.
Perjanjian utang atau peminjaman uang tersebut juga disahkan di atas sebuah surat perjanjian utang piutang yang juga disusun oleh pengacara Sandiaga Uno, Rikrik Rizkiyana.
Erwin membeberkan saat putaran pertama Anies Baswedan terlibat utang kepada Sandiaga dikarenakan tak memiliki uang yang cukup.
“Saya baru tahu juga waktu itu, waktu putaran pertama ya logistic, jadi yang punya logistic kan Sandi.
Sandi kan banyak saham, likuiditas juga bagus dan sebagainya, jadi ada perjanjian satu lagi yang saya kira itu,” tutur Erwin.
“Intinya, kalau tidak salah itu perjanjian utang-piutang. Ya, pasti yang punya duit memberikan hutang kepada yang tidak punya duit,” lanjutnya.
Hingga kini belum ada tanggapan dari Anies Baswedan maupun Sandiga Uno terkait informasi yang diumbar Erwin Aksa tersebut.***

Share this article
Erwin mengatakan bahwa dirinya mengikuti drafting perjanjian itu. Ia juga melihat tanda-tangan kedua belah pihak di situ.