AYOJAKARTA.COM - Pengacara Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak kembali membuka suara yang menggemparkan publik.
Pengacara Brigadir J satu ini memang terkenal dengan blak-blakannya dalam mengungkap kebenaran.
Sebelumnya Pengacara Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak mempertanyakan soal tuntutan Bharada E yang lebih tinggi daripada Putri Candrawathi.
Seperti diketahui Richard Eliezer atau Bharada E telah bersikap jujur dan menjadi justice collaborator dalam perkara pembunuhan Brigadir Yosua.
Dikutip dari kanal YouTube Uya Kuya TV pada Selasa, 7 Februari 2023 berikut ulasannya.
Baca Juga: Pilpres 2024 Makin Dekat, Nama Bakal Calon Wakil Presiden Anies Baswedan Mengerucut, Siapakah Dia?
“lalu mengapa yang belum bertobat justru ringan, yaitu PC, PC yang berbelit-belit padahal dia itu merancang pembunuhan dan ikut melakoni skenario itu,” kata Kamaruddin.
Menurut dugaan Kamaruddin Simanjuntak tuntutan Bharada E dengan Putri Candrawathi jomplang karena adanya pengaruh uang didalamnya.
“saya dengan sangat menyesal harus saya katakan PC terlalu banyak duitnya, Bharada Richard tak punya duit saya harus katakan itu,” ujarnya.
Pengaruh Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo diduga memiliki hubungannya dengan judi online dengan nilai yang ditaksir 155 triliun rupiah.
Baca Juga: Breaking News! Gempa 3.4 Magnitudo Guncang Halmahera Barat-Maluku Utara, Waspada Gempa Susulan!
“artinya PC ini pengaruhnya besar bersama Ferdy Sambo, hubungannya dengan banyak duit, judi online saja yang tadinya saya taksir cuma beberapa triliun ternyata 155 triliun transaksinya bersama para mafia itu,” ujar Kamaruddin.
Dalam dugaan operasi senyap yang bernilai 155 triliun itu Kamaruddin Simanjuntak menyebut bahwa PPATK sebelumnya telah mengumumkannya.
Sehingga sudah menjadi tugas KPK untuk menyelidiki lebih lanjut terkait siapa yang melakukan transaksi tersebut dan dari mana saja.
“tapi yang jelas PPATK telah bekerja dan mengumumkan 155 triliun, nah tugas KPK sekarang merespon PPATK siapa yang bertransaksi di dalam 155 triliun itu, kemana aliran dananya siapa yang menikmati, lembaga mana saja,” ujar Pengacara Yosua.
Menurut Kamaruddin jika Presiden RI tidak mengetahui adanya kejahatan dengan aliran dana 155 triliun rupiah tersebut, maka dapat dipastikan negara sedang dalam bahaya.
“apa mungkin Pak Jokowi selaku Presiden tidak tahu aliran 155 triliun di negara ini, kalau sampai berani bilang Presiden tidak tahu berarti negara dalam keadaan bahaya, ada operasi 155 triliun operasi kegelapan Presiden tidak tahu cuma Kamaruddin yang tahu kan begitu,” ungkapnya.
Tak hanya Presiden Joko Widodo, jika seorang Kapolri tidak mengetahui transaksi fantastis tersebut maka dikhawatirkan akan mengancam kehidupan bernegara.
“kalau Kapolri mengatakan tidak tahu berartu negara dalam keadaan darurat, ada operasi senyapa 155 triliun transaksi kegelapan yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.***

Share this article
Tak hanya Presiden Joko Widodo, jika seorang Kapolri tidak mengetahui transaksi fantastis tersebut maka dikhawatirkan akan mengancam negara.