AYOJAKARTA.COM - Jelang Pemilu 2024, kandidat calon presiden (capres) Ganjar Pranowo sebelumnya digadang-gadang menjadi sosok penerus Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dimana pemilih Jokowi pada Pemilu 2019 lalu disebut-sebut turut mendukung Ganjar Pranowo sehingga awalnya menunjukkan elektabilitas kandidat capres tersebut tinggi.
Namun hasil survei tingkat elektabilitas Ganjar Pranowo terkini justru merosot pasca soal batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20.
Baca Juga: Estimasi Anggaran Tarif Tol Lebaran 2023, Pemudik dengan Kendaraan Pribadi Wajib Tahu!
Pasalnya diketahui bahwa pihak yang bertanggung jawab atas keputusan FIFA yang membatalkan perhelatan Piala Dunia U-20 salah satunya yakni Ganjar Pranowo.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Djayadi Hanan menjelaskan bahwa turunnya elektabilitas Ganjar Pranowo ini terlihat karena pendukungnya pindah ke Prabowo.
"Kami mendeteksi ada perpindahan suara dari pendukung Jokowi yang ke Ganjar itu berpindah lebih banyak ke Pak Prabowo," jelas Djayadi Hanan dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube tvOneNews.
Disebutkan bahwa survey terakhir menunjukkan bahwa pemilih Jokowi pada pemilu 2019 lalu sebanyak 39 persen mendukung Ganjar.
"Survey terakhir ini analisis yang lebih rinci itu menunjukkan bahwa pemilih Pak Jokowi di 2019 lalu, itu 39 persen mendukung Ganjar, 32 persen mendukung Pak Prabowo, sekitar 18 persen mendukung Anies Baswedan," ungkap Djayadi Hanan.
Dimana itu mengalami penurunan karena pada Januari lalu elektabilitas Ganjar menunjukkan angka sekitar 55 hingga 60 persen.
Dikatakan bahwa elektabilitas Ganjar terjadi penurunan sekitar 20 persen.
"Nah biasanya sebelumnya, bulan Januari, pemilih Jokowi yang mendukung Pak Ganjar itu biasanya di kisaran 55-60 persen. Jadi ada penurunan sekitar 20 persen," jelas Djayadi Hanan.
Selain itu, seiring penurunan pada kolom Ganjar, justru pada kolom Prabowo mengalami peningkatan.
"Meskipun pindahnya tidak seluruhnya ke Pak Prabowo, tapi di kolomnya itu mengalami peningkatan sekitar 10 persen," ujar Djayadi Hanan.
Penurunan angka elektabilitas Ganjar ini salah satunya disebabkan karena batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20.
"Salah satunya adalah soal momentum Piala Dunia," tutur Djayadi Hanan.
Disebutkan bahwa masyarakat Indonesia yang mengetahui hal itu, 70 persen diantaranya mendukung agar Piala Dunia tetap dilaksanakan.
"Indonesia akan menjadi tuan rumah, dari yang tahu itu 70 persen tidak keberatan, mereka menginginkan agar Piala Dunia tetap dilaksanakan," jelas Djayadi Hanan.
Baca Juga: Kuasa Hukum David: Semoga Jaksa Lakukan Banding, Sebab AG Mendapatkan Keuntungan Double
"27 persen saja yang menyatakan tidak masalah Piala Dunia tidak dilaksanakan," tambahnya.
Maka imbas batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tentu menimbulkan kekecewaan yang ditujukan terutama kepada ganjar.
"Jadi ini menimbulkan kekecewaan. Secara elektoral itu mengalamatkan kekecewaannya kepada pihak yang bertanggung jawab atas gagalnya itu," ungkap Djayadi Hanan.
"Antara lain itu adalah Pak Ganjar, kemudian dari segi partai itu PDIP," lanjutnya.
Tak hanya itu, diketahui juga ada endorsement yang diperlihatkan oleh Jokowi cukup tegas kepada kandidat lain selain Ganjar.
"Yang kedua, sejak 4-5 bulan terakhir, ada endorsement yang cukup tegas dari pak Jokowi kepada calon lain, atau nama lain selain Pak Ganjar,"
Dimana itu menjadi sinyal bagi pemilih jokowi pada pemilu 2019 lalu bahwa mereka punya alternatif kandidat yakni Prabowo.
"Maka itu memberi sinyal bahwa mereka punya alternatif selain Ganjar yaitu Prabowo," jelas Djayadi Hanan.
Dari dua alasan tersebut, menyebabkan elektabilitas Ganjar Pranowo menurun sekitar 8 persen.
"Dua hal itu bergabung menjadi satu. Itu mengakibatkan penurunan kalau hitungan dari Februari sampai awal April itu sekitar 8 persen (Pak Ganjar)," ungkap Djayadi Hanan.
Terlebih lagi, meningkatnya dukungan Prabowo juga bisa karena dampak sosialisasi atau kampanye yang dilakukan dengan model yang mirip dengan Jokowi sebelumnya.
Baca Juga: Harapan Kuasa Hukum David soal Vonis Pelaku Penganiayaan: Tetap Maksimal!
"Faktor naiknya suara Prabowo, bisa juga antara lain adalah tampak mulai lebih lenturnya sosialisasi yang dilakukan," tutur Djayadi Hanan.
"Lebih sering ketemu masyarakat, lebih menunjukkan karakter merakyat, yang lebih mirip dengan model atau style kampanye atau sosialisasi yang dilakukan oleh Pak Jokowi," tambahnya.***

Share this article
Elektabilitas Ganjar Pranowo menurun dan sebagian pendukung ternyata kecewa imbas kartu kuning dari FIFA, langsung lari ke sosok ini..