AYOJAKARTA.COM-- Ferdy Sambo telah mendapatkan vonis hukuman mati dari hakim persidangan kasus pembunuhan Brigadir Yosua, ajudannya.
Namun demikian, hal tentang Ferdy Sambo seakan tak pernah habisnya. Mantan jendral bintang dua ini pun dalam upaya pengajuan banding terhadap vonis hukumannya.
Beragam ekspresi Ferdy Sambo selama persidangan juga menarik perhatian karena mengandung misteri. Ahli mikro ekspresi mencoba membedahnya.
Pakar Mikro Ekspresi Monica Kumalasari menangkap gestur yang mengindikasikan kebohongan selama Ferdy Sambo dan terdakwa lainnya tunjukkan selama persidangan.
Dalam pengamatan Monica, ia kerap kali menangkap adanya perbedaan apa yang dikatakan Ferdy Sambo cs dengan apa yang gestur mereka tunjukkan.
Ada banyak sekali mikro ekspresi yang ditangkap oleh Monica pada Ferdy Sambo dan terdakwa lainnya tapi kali ini ia akan membahas secara detail mengenai kedipan mata.
Monica mengungkap bahwa ekspresi dan gestur merupakan bahasa yang lebih universal dibandingkan dengan bahasa lisan.
Mikro ekspresi adalah emosi yang nampak dalam wajah manusia. Ternyata di dalam wajah manusia terdapat 43 otot yang bisa dianalisis sebagai indikasi kejujuran.
“Banyak yang saya amati adalah ketika beliau mengatakan sesuatu terus kemudian ketika beliau juga misalnya meminta maaf dan sebagainya gitu ya maka ekspresinya juga tidak sinkron,” ungkap Monica.
Jika seseorang mengatakan sesuatu dengan jujur maka otot-otot yang ada di wajah akan rileks dan spontan menanggapi.
Sebaliknya ketika ada kebohongan maka akan timbul stres pada wajah jadi ada bentrok antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dirasakan.
Baca Juga: Tanggapi Hasil Sidang Kode Etik Eliezer, Martin Lukas Simanjuntak: Sudah Tepat Alasannya...
Beberapa contoh yang bisa diamati jika seseorang berbohong adalah adanya ketakutan yang diekspresikan oleh wajah pada kerutan dahi atau juga perubahan intensitas kedipan mata.
Monica memperhatikan bahwa terdakwa Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Ricky Rizal, dan Kuat Maruf
“Saya mendapati pada keempat terdakwa ini pada pertanyaan-pertanyaan yang merupakan critical question ya mereka menjawab dengan adanya kedipan mata,” ujar Monica.
“Manusia itu kira-kira berkedip itu normal lah 1 menitnya 26 kali misalnya. Tapi ketika mendapati kedipannya ditahan atau berkurang, kemudian ketika kedipannya justru meningkat itu yang kita katakan bahwa ada kebocoran,” lanjutnya.
Monica mengatakan bahwa ketika seseorang berbohong maka orang ini akan berusaha untuk meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya ini dalam kontrolnya, maka kedipannya akan berkurang.
Itulah yang dianalisis dari Monica Kumalasari terhadap Ferdy Sambo, dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube Official iNews (24/2/2023).
Berbeda halnya yang Monica amati pada Ferdy Sambo, ia mengamati bahwa Putri Candrawathi lebih banyak terlihat menyembunyikan sesuatu.
Bahkan ini bisa terlihat tidak hanya dari mikro ekspresi saja tapi dari penampilan Putri Candrawathi. Ini bisa dilihat pada nota pembelaan dimana Putri mengikat rambutnya dengan tidak rapi yang bisa diartikan sebagai penarik empati, ditambah lagi dengan banjir air mata.
“Ekspresi itu bertujuan untuk mendapatkan empati, jadi tangisan itu untuk mendapatkan empati. Dan ini berusaha untuk meyakinkan hakim,” ungkap Monica.***

Share this article
Monica mengungkap bahwa ekspresi dan gestur merupakan bahasa yang lebih universal dibandingkan dengan bahasa lisan.