AYOJAKARTA.COM - Kasus pembunuhan Brigadir J yang dilakukan oleh Ferdy Sambo cs hingga kini sukses mencuri perhatian masyarakat.
Terlebih saat ini, kelima terdakwa kasus pembunuhan Brigadir J yakni Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Kuat Maruf, Bharada E, dan Bripka RR tengah menjalani persidangan.
Namun sayang sidang lanjutan kelima terdakwa yang rencananya akan digelar pekan ini harus ditunda.
Kendati demikian, fakta-fakta yang terungkap di persidangan sebelumnya masih menjadi perbincangan hangat.
Salah satunya yakni terungkapnya momen Putri Candrawathi yang menyuapi Brigadir J di hari ulang tahun pernikahannya dengan Ferdy Sambo.
Sebagaimana diketahui, kasus pembunuhan ini berawal dari pengakuan Putri Candrawathi yang mendapat kekerasan seksual dari Brigadir J.
Lantas sudah mendapat perlakukan kekerasan seksual, mengapa Putri Candrawathi menyuapi Brigadir J?
Pertanyaan itu, hingga kini masih belum terjawab.
Kendati demikian, terkait fakta tersebut praktisi hukum Saor Siagian ikut buka suara.
Baca Juga: Terpopuler! Seragam Ferdy Sambo Diurus Sosok Ini hingga Putri Candrawathi Goda Ajudan
Saor Siagian sentil Putri Candrawathi yang dilecehkan tapi masih mau suapi Brigadi J.
Selain itu, Saor Siagian juga menyindir pengacara Putri Candrawathi, Febri Diansyah.
Sebab, Febri Diansyah masih kekeh memperjuangkan isu kekerasan seksual yang dialami Putri sebagai senjata perlawan di persidangan.
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube tvOneNews dalam program Apa Kabar Indonesia Malam, Saor Siagian menyebut bahwa awalnya yang jadi andalan Putri Candrawati terkait isu kekerasan seksual ini yakni sang sopir Kuat Maruf dan Susi ART Ferdy Sambo.
Namun, kesaksian dari Kuat Maruf dan Susi justru terbantahkan di persidangan.
"Sebenernya mereka ini di waktu di Duren Tiga tuh melapor bahkan melibatkan semua lembaga kan supaya semua lapora itu bener termasuk kawan-kawan polisi yang kemarin menjadi korban," ujar Saor Siagian.
Lebih lanjut, Saor juga melihat sejumlah kejanggalan dari pengakuan Putri Candrawathi tersebut.
"Setelah mereka kejadian dibilang itu, mereka belanja ke mall jalan-jalan dan puncaknya pada tanggal 7 subuh waktu Anniversary. Si Yosua itu masih disuapi korban pelecehan seksual," katanya.
Dalam hal ini, Saor menilai jika apa yang dilakukan istri Ferdy Sambo itu sangat tidak masuk akal.
"Padahal teori pelecehan seksual Mbak Caca, trauma yang paling besar melampaui trauma seorang teroris adalah pelecehan seksual," tegas Saor lagi.
Penilaian Saor ini juga selaras dengan hasil BAP beberapa waktu lalu dimana sempat disinggung bahwa Putri pernah menemui Brigadir J beberapa kali meski sudah dilecehkan.
Hal ini jelas bahwa sejatinya korban pelecehan tidak mungkin bertemu pelaku dengan mudahnya.
Kata Saor, pasti korban akan mendapatkan trauma tertentu.
Namun yang terjadi, Putri justru dinilai tidak menampakan trauma atau profil dari korban kekerasan seksual.
Saor juga menilai bahwa kasus kekerasan seksual ini menjadi senjata terakhir Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi agar terbebas dari jeratan hukum yang berat.
Di sisi lain, Saor Siagian menyayangkan sikap dari Febri Diansyah yang menarasikan isu kekerasan seksual secara terus menerus.
"Saudara Febri ini kan banyak yang menarasikannya, kan saya bareng sama dia jadi juru bicara, jangan-jangan ini kliennya pertama terus kasus pidana sehingga ini soal jam terbang," ungkapnya.***

Share this article
Saor Siagian menyebut bahwa kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan Brigadir J jadi senjata terkahir Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi