AYOJAKARTA.COM – Sejak Gibran Rakabuming ditetapkan sebagai cawapres Prabowo Subianto, pertentangan dan dukungan mulai berdatangan.
Bagi kalangan yang menentang, terpilihnya Gibran Rakabuming menjadi pendamping Prabowo Subianto merupakan bentuk lain upaya dibangunnya dinasti politik Jokowi.
Sementara yang mendukung menilai duet Prabowo Subianto dengan Gibran Rakabuming merupakan representasi dari proses regenerasi kepemimpinan.
Sehubungan dengan pro-kontra tersebut, Pembina Ganjarian Spartan Eko Kuntadhi menilai apa yang disaksikan publik saat ini merupakan buah dari drama panjang.
Eko menilai, pernyataan-pernyataan Gibran di awal pencalonan sebagai cawapres seringkali mengindikasikan penolakan.
Dalam sejumlah keterangan kepada awak media, Gibran juga sempat mengakui bahwa dirinya belum cukup kapabel untuk menduduki jabatan tersebut.
Baca Juga: Rumor AHY Bergabung dalam Kabinet Jokowi, Airlangga: Belum Tahu Belum Dengar
Namun fakta berbeda justru terjadi ketika secara resmi Koalisi Indonesia Maju bersepakat menduetkan Prabowo dengan Ganjar.
“Puncaknya kita tahu, akhirnya Mas Gibran dideklarasikan Pak Prabowo sebagai pasangannya,” ungkap Eko yang menentang duet tersebut.
Lebih lanjut, Eko memaparkan bahwa drama yang terjadi terkait dengan proses pencalonan Gibran turut melibatkan Mahkamah Konstitusi.
Baca Juga: Prabowo Blak-blakan Sebut Tidak Akan Menggunakan Fasilitas Negara dalam Pilpres 2024
Karena adanya fakta-fakta tersebut, Eko perlu mempertanyakan apakah semua dinamika politik yang terjadi sengaja dirancang untuk melancarkan langkah pasangan tersebut.
“Karena ada perbedaan yang cukup signifikan, karena waktunya hanya beberapa bulan atau minggu, kesannya menolak lalu menjadi seperti ini,” imbuhnya.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Eko memandang dipilihnya Gibran sebagai cawapres Prabowo Subianto merupakan hal wajar untuk diperdebatkan.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Yakin Menang di Jateng Meski Gibran Rakabuming Raka Jadi Cawapres Prabowo Subianto
Berbeda pendapat dengan Pembina Ganjarian Spartan, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman justru menilai hal sebaliknya.
Menurut Habib, dipilihnya Gibran sebagai cawapres Prabowo Subianto telah melalui proses penyerapan aspirasi dari seluruh rangkaian struktur baik daerah maupun pusat.
Adanya kekhawatiran akan terjadinya polarisasi politik antagonis sebagaimana terjadi pada Pemilu sebelumnya, menjadi alasan pertama dipilihnya Gibran.
Selain itu, masuknya Gibran sebagai cawapres merupakan bentuk penghargaan bagi kaum muda untuk ikut serta dalam proses bernegara.
Terlepas dari fakta bahwa Gibran adalah putra Presiden, namun Habib menimbang ada hal lain yang perlu dilihat secara lebih mendalam.
“Beliau orangnya rendah hati, cekatan, dan meskipun pendiam; orangnya sangat komunikatif terutama di media sosial,” jelas Habib.
Baca Juga: Perhatikan Perbedaan Materi SKD CPNS dan Seleksi Kompetensi PPPK agar Tidak Salah Belajar
Berbekal dari sejumlah pertimbangan tersebut, Habib menyebut sosok dan karakter Gibran merupakan salah satu hal yang dibutuhkan negara.
“Maka Gerindra bulat mendukung Gibran sebagai wapres Pak Prabowo,” ungkap Habib seperti dikutip Ayojakarta pada Selasa 24 Oktober 2023 dari Metro TV. ***

Share this article
Kontroversi deklarasi Gibran sebagai cawapres Prabowo: drama politik memicu pertentangan antara regenerasi kepemimpinan dan kritik.