AYOJAKARTA.COM – Setelah narasi pemecatan datang dari Forum Purnawirawan TNI, desakan agar Gibran Rakabuming mengundurkan diri kini datang dari kalangan Advokat.
Melalui Somasinya, kelompok Advokat yang tergabung dalam Perekat Nusantara dan Tim Pembela Demokrasi Indonesia menilai Gibran Rakabuming tidak pantas menjabat Wapres.
Selain karena minimnya pengalaman, alasan Gibran Rakabuming dinilai tidak pantas menjadi Wapres juga karena dianggap anak haram konstitusi.
Baca Juga: Kecewa Status KPM Bansos PKH dan BPNT Terhapus Pasca Penggunaan DTSEN? Terungkap Ini Penyebabnya
Disamping kedua anggapan tersebut, sosok Gibran Rakabuming juga ditengarai memiliki rekam jejak serta perilaku yang buruk dalam menggunakan media sosial.
Melalui akun Kaskus Fufufafa yang diyakini oleh Ahli Telematika Roy Suryo memiliki akurasi mencapai 99,99 persen; Gibran dinilai kurang memiliki etika.
Sehubungan dengan adanya wacana pemakzulan yang digaungkan oleh kelompok Advokat, Profesor Sulfikar Amir melalui sebuah siniar sempat memberikan pandangan.
Menurut salah satu Pengajar di Nanyang Technology University, Singapura , Gibran Rakabuming merupakan salah satu sosok yang berasal dari generasi digital.
Hidup di zaman yang serba instan, Gibran sebagaimana dengan kebanyakan orang seangkatannya juga berpotensi memiliki kecenderungan mudah terbawa arus.
Meski hingga hari ini masih misterius, Sulfikar mengimani pemilik akun Kaskus Fufufafa merupakan bagian dari generasi saat ini.
Pernyataan yang tidak melalui proses penyaringan intelektual dan mengabaikan aspek emosional, menurut Sulfikar merupakan suatu gejala dan fenomena sosiologis.
Berdasarkan pada hasil kajian, para Sosiolog menurut Sulfikar berpendapat bahwa salah satu dampak teknologi internet adalah menipisnya batasan etika dan moral.
Dalam kajian yang lebih mendalam, kemudahan akses internet menurut Sulfikar dapat membuat seseorang mengalami gangguan kepribadian.
Baca Juga: iPhone 17 Pro: Bocoran Lengkap Spesifikasi, Desain, dan Tanggal Rilis
Sehingga perilaku yang seringkali diperlihatkan di dunia maya dengan dunia nyata memiliki kecenderungan bertolak belakang.
“Kemajuan internet itu bukan hanya mempengaruhi cara kita berkomunikasi, tetapi juga sistem kognitif kita,” jelas Sulfikar.
Penyangkalan Gibran sebagai pemilik akun Fufufafa meski terindikasi mengarah sebaliknya, bisa jadi merupakan salah satu bentuk gejala gangguan kepribadian.
Meski untuk memastikan hal tersebut perlu dilakukan penelitian lanjutan, Sulfikar percaya teknologi internet dengan segala dampaknya akan mempengaruhi cara seseorang berpikir.
Salah satu kebijakan Wapres Gibran yang dipertanyakan oleh Sulfikar sebagai Ahli Teknologi adalah penggunaan Kecerdasan Buatan sebagai jalan keluar dari persoalan.
Baca Juga: Rilis 8 September! Harga iPhone 17 Pro Indonesia Tetap Stabil, Jadi Berapa?
Selain dianggap naif dan sangat dangkal, Wapres Gibran menurut Sulfikar juga kurang memahami dampak jangka panjang glorifikasi AI.
“Peneliti MIT mengukur Brain Activity, kesimpulannya AI itu membuat seseorang bertambah bodoh,” ungkap Sulfikar dikutip Ayojakarta dari Forum Keadilan TV. ***

Share this article
Salah satu kebijakan Wapres Gibran yang dipertanyakan oleh Sulfikar sebagai Ahli Teknologi adalah penggunaan Kecerdasan Buatan sebagai...