AYOJAKARTA.COM – Banyaknya korban yang berjatuhan atas tragedi di Kanjuruhan Sabtu (1/10/2022) kemarin menjadi sorotan publik hingga media luar negeri.
Media-media luar besar dari BBC, Reuters, Straits Times, hingga Al Jazeera ikut menyoroti tragedi naas yang menimpa suporter sepak bola yang terjadi di Malang, terutama karena tingginya jumlah korban anak-anak.
Dari laporan polisi, tragedi Kanjuruhan ini telah menyebabkan 125 orang tewas dan 323 orang lainnya luka-luka. Dari korban tewas tersebut, kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ada 33 diantaranya adalah korban anak-anak.
Baca Juga: Selingkuhan Rizky Billar Muncul, Isa Zega Beri Pengakuan: Mami dan Rizky Sudah Lama
Kerusuhan yang terjadi di Kanjuruhan ini berawal dari penonton penggemar Arema yang kecewa atas kekalahan timnya yang kemudian menerobos masuk kelapangan untuk mengunjuk rasa kepada pelatih dan para pemain Arema FC.
Karena kerusuhan tersebut, aparat menembak gas air mata kepada sekelompok orang yang memasuki lapangan. Namun tidak tahu menahu, aparat juga menembakkan gas air mata ke arah bangku penonton yang menyebabkan semua orang panik dan terjadi desak-desakkan semua orang di dalam stadion hingga menjatuhkan banyak korban jiwa.
Dilansir dari The Straits Times, salah satu media luar yang ikut menyoroti tragedi Kanjuruhan, ada 7 hal yang salah atas tragedi Kanjuruhan Sabtu kemarin.
1. Jam tanding malam
Di awal, polisi sudah meminta pertandingan digelar pada jam 15.30 WIB untuk menghindari insiden yang tidak diinginkan yang lebih mungkin terjadi jika pertandingan digelar larut malam.
Namun, PT liga Indonesia Baru (LIB) panitia penyelenggara memutuskan untuk menggelar pertandingan di jam 20.00 WIB dengan beberapa ketentuan. Salah satunya, suporter Persebaya Surabaya tidak diizinkan masuk untuk menghindari pertengkaran antar suporter.
Baca Juga: Terkuak! Ternyata Ini Alasan Reza Arap Selingkuhi Wendy Walters: dari Sifat hingga Urusan Ranjang
2. Tiket yang terlalu over
Stadion saat itu terisi melebihi kapasitas yang seharusnya. Mahfud MD mengatakan bahwa tiket terjual habis sebanyak 42.000 tiket yang padahal stadion hanya menampung 38.000 orang.
3. Reaksi fans ketika Arema FC kalah
Pertama kalinya setelah 23 tahun, Arema FC dikalahkan oleh Persebaya di rumah sendiri. Banyak orang yang turun ke lapangan untuk menghadapi secara langsung pelatih dan pemain Arema.
4. Meningginya ketegangan
Polisi berusaha untuk memaksa suporter untuk kembali ke tribun menggunakan tongkat dan perisai.
Baca Juga: Wendy Walters Resmi Bercerai dari Reza Arap, Terlanjur Sakit Hati Jadi Alasan?
5. Penembakan gas air mata
Di bawah peraturan keselamatan FIFA, badan pengatur sepak bola dunia, tidak ada senjata api atau gas pengendali massa yang boleh dibawa atau digunakan oleh petugas. Polisi Jawa Timur tidak segera menanggapi pertanyaan apakah mereka mengetahui peraturan tersebut.
Banyak korban yang mengalami trauma, sesak nafas, dan kekurangan oksigen karena efek gas air mata tersebut.
6. Paniknya massa
Setidaknya satu gerbang mengalami kerusakan karena desakan massa yang ingin keluar stadion namun pintu keluar ditutup oleh petugas.
Pelatih sepak bola Arema, Javier Roca pada Minggu mengatakan bahwa penggemar bahkan "mati di pelukan pemain", setelah beberapa tim tetap berada di lapangan saat pertandingan berakhir.
Baca Juga: Ayah Lesti Kejora Minta Gugat Cerai Sang Suami, Hingga Karir Rizky Billar Terancam
7. Kerusuhan berlanjut di luar stadion
Massa di luar stadion menggulingkan dan membakar mobil-mobil polisi. Hal ini diketahui sebagai balas dendam.
Mereka juga melaporkan bahwa tragedi ini menjadi salah satu bencana terburuk kedua di dunia sepak bola setelah kejadian di Peru pada tahun 1964 lalu.*** (Izza Salsabila)

Share this article
Ada 7 hal yang salah atas tragedi Kanjuruhan Sabtu kemarin, jam tanding malam hingga kerusuhan berlanjut di luar stadion.