AYOJAKARTA.COM - Tragedi kericuhan di stadion Kanjuruhan, Malang sangat meninggalkan duka mendalam.
Banyaknya korban jiwa yang meninggal hingga membuat tragedi Kanjuruhan ini menjadi sorotan publik dalam dan luar negeri.
Tragedi mengerikan ini berawal saat diadakannya laga pertandingan klub Arema dan Persebaya pada Sabtu (1/10/2022).
Baca Juga: Presiden Beri Waktu Kurang Dari Satu Bulan TGIPF Ungkap Tuntas Tragedi Kanjuruhan
Seperti yang kita tahu, kedua klub ini memiliki rivalitas yang tinggi antar sesama suporter.
Puncaknya pada saat kemenangan diambil oleh Persebaya dengan skor 3-2.
Sedangkan Arema otomatis kalah di kandangnya sendiri.
Baca Juga: Buntut Tragedi Kanjuruhan Arema Fc didenda Rp 250 Juta
Menurut informasi yang beredar awal mula kericuhan disebabkan oleh suporter Arema yang memaksa masuk ke lapangan dan menyerang pemain Persebaya.
Namun ternyata hal itu dikatakan tidak benar oleh seorang Aremania bernama Dadang Indarto yang saat itu juga berada di stadion.
Dadang mengataka jika suporter Aremania turun untuk memberikan support kepada para pemain Aremania dan official.
Baca Juga: Bareskrim Polri Usut Tragedi Kanjuruhan, Labfor Dalami 6 CCTV di Beberapa Titik Kejadian
Namun dihalau oleh suporter Persebaya dan menimbulkan salah paham bagi suporter lain.
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal Youtube Tv One News pada Rabu (5/10/2022), Dadang yang merupakan seorang Aremania tersebut menceritakan lebih detail suasana mencekam saat di stadion Kanjuruhan.
Dadang menceritakan bahwa saat itu dirinya berada di Tribun.
Baca Juga: Siapa yang Bakal Jadi Tersangka Tragedi Kanjuruhan? Puluhan Orang Sudah Diperiksa Polisi
Awalnya ia hendak ikut turun menyusul dua Aremania lain yang diinformasikan Dadang ingin memberi dukungan kepada tim Arema dan Official.
Namun dua Aremania teman Dadang tersebut dihalangi oleh suporter Persebaya, hal tersebutlah yang kemudian membuat salah paham antar sesama suporter.
Para suporter lain mengira ada keributan sehingga memancing suporter lain untuk turun.
Polisi juga nampak langsung menghalau suporter yang mulai turun, tapi karena kondisi sudah terlanjur tidak kondusif akhirnya ditembaklah dengan gas air mata di lapangan terlebih dulu.
Namun tidak hanya itu karena semakin ricuh, petugas keamanan juga menembaki tribun dengan gas air mata.
“Sampai akhirnya penembakan gas air mata yang pertama itu di sektor timur.” tutur Dadang menceritakan kembali kejadian di Kanjuruhan.
Baca Juga: Anak Korban Tragedi Kanjuruhan Dapat Beasiswa Pendidikan dari Baznas
“Setelah itu dilanjutkan disektor utara satu kali, dilanjutkan ke sektor selatan di tribun 10 sama 14
Situasi sudah tidak terkendali semua turun.” tuturnya.
Lebih lanjut Aremania ini menceritakan, “Tembakan yang pertama tidak terlalu terasa namun yang kedua sangat perih akhirnya saya bisa selamat dan gak turun saya gak panik dan nutupin muka saya dengan kaos saya dan saya tiarap tapi muka saya perih.”
Namun menurut Dadang, gas air mata yang ia rasakan kali ini berbeda dengan gas air mata yang biasanya digunakan untuk menghalau pendemo mahasiswa.
“Menurut literatur yang saya baca kemarin itu ini kayanya bukan gas airmata yang untuk menghalau masa tapi ini gas air mata yang untuk perang kayaknya gitu.” pungkas Dadang Indarto. ***

Share this article
Kesaksian Aremania bernama Dadang, merasakan semprotan gas air mata di Kanjuruhan seperti untuk perang.