AYOJAKARTA.COM - Update penanganan gagal ginjal akut disampaikan oleh dr. Syahril selaku Juru Bicara Kemenkes dalam konferensi pers pada hari ini, Senin, 7 November 2022.
Terlihat dari data yang dipaparkan per tanggal 6 November 2022, kemungkinan Indonesia akan segera pulih dari kasus gagal ginjal akut pada anak.
Kemenkes memberi kabar bahagia atas penurunan kasus gagal ginjal akut yang sangat progresif.
Baca Juga: Jasad Brigadir J Bermasker Hitam, Sopir Ambulans: Tergeletak Berlumuran Darah
Pada perkembangan kasus gagal ginjal akut pada anak saat ini terdapat sejumlah 28 provinsi yang melapor.
Diantaranya total kasus mencapai 324 kasus teridentifikasi di seluruh Indonesia.
Kabar baiknya jumlah pasien yang dirawat menurun yakni kini hanya 27 yang masih jalani perawatan di rumah sakit.
Sementara kasus kematiannya diketahui sejumlah 195 orang meninggal dan 102 orang dinyatakan sembuh.
Kabar baiknya adalah umumnya kasus gagal ginjal akut pada anak dilaporkan masih bertambah per harinya, ternyata tidak pada tanggal 6 November 2022 kemarin.
"Tanggal 6 November tidak ada kasus yang terlaporkan, baik kasus baru maupun kasus lama termasuk angka kematiannya," ujar dr. Syahril, dikutip dari siaran pers YouTube Kementerian Kesehatan RI, Senin, 7 November 2022.
Hal ini menunjukkan tanda baik atas penanganan kasus gagal ginjal akut yang diatasi Kemenkes beserta jajaran pihak terkaitnya.
dr. Syahril menjelaskan histori jumlah kasus pada akhir Agustus naik kasusnya mulai dari 37 kasus.
Kemudian memburuk pada Oktober mulai dari 75 kasus terlapor hingga lebih dari 100 kasus.
Setelah melakukan kajian penelitian antara Kemenkes, IDI, RS, para ahli epidemiolog, apoteker dan ahli toksikologi secara maraton.
Upaya untuk menyingkirkan kemungkinan atau mencari penyebab kemungkinan gagal ginjal akut dilaksanakan dengan cermat.
Mulai dari dilakukan pemeriksaan adanya infeksi virus, bakteri, jamur termasuk parasit. Dilanjutkan dengan menyingkirkan dehidrasi, perdarahan dan penyakit lain.
Setelah menyelesaikan serangkaian itu, berdasarkan hasil penelitian pemeriksaan darah dan urin pasien didapat suatu zat yang menyebabkan terjadinya keracunan atau intoksikasi pada ginjal anak tersebut.
Ketika dilakukan Biopsi ginjal, ditemukan kelainan akibat intoksikasi dari zat Etilen Glikol (EG) maupun Dietilen Glikol (DEG).
Dari temuan itu, peneliti dan Kemenkes menyimpan dugaan kuat yakni faktor terbesar penyebab gagal ginjal karena intoksikasi EG dan DEG.
Hal itu juga bercermin pada hasil pemeriksaan kasus di Gambia, Afrika yang hampir sama dengan Indonesia.
Pada 18 Oktober 2022, Kemenkes berikan pengumuman pelarangan obat sirup pada anak untuk sementara waktu.
Kemudian 23 Oktober 2022, BPOM merilis sejumlah obat sirup yang aman digunakan.
Dilanjut pada 25 Oktober 2022, Kemenkes mendatangkan obat penawar atau antidotum bernama Fomepizole yang diberikan kepada pasien gagal ginjal akut.
Sejak itu, grafik penambahan kasus pasien gagal ginjal akut menurun.
November awal yang umumnya masih terdapat 1 atau 2 pasien bertambah, kini bahkan tidak ada sama sekali kasus bertambah maupun meninggal.
Jadi intoksikasi EG dan DEG inilah yang menjadi penyebab terbanyak dari kasus gagal ginjal dari hasil penelitian Kemenkes.
Pelarangan obat sirup dan pemberian Fomepizole menjadi kunci dalam penanganan kasus gagal ginjal akut pada anak ini.
"Reaksi cepat kita alhamdulillah mudah-mudahan seterusnya tidak ada lagi pasien gagal ginjal akut yang bertambah maupun yang meninggal," ujar dr. Syahril.
Kemudian ia menunjukkan grafik antara jumlah kasus bertambah dengan angka kematiannya hampir sama sejak awal kasus. Bahkan angka kematiannya pernah mencapai 58%.
Tetapi pada akhir Oktober 2022 sejak tanggal 26 sampai saat ini grafiknya semakin turun.
Tren perawatan RS per harinya juga menunjukkan hal yang sama, dari tanggal 2 Oktober 2022 grafiknya masih naik turun, tetapi sejak 31 Oktober 2022 reaksi pelarangan obat sirup dan pemberian Fomepizole memberi dampak positif.
Dampaknya sangat menurun sampai hari ini yakni ada 27 orang dirawat pada 6 November 2022 yang sebelumnya ada 28 orang pada 5 November 2022 yang dirawat.
Baca Juga: Arka Diduga Anak Kuat Maruf, Susi Keceplosan Bilang Begini
Kasus ini masih tercatat paling banyak diderita oleh anak pada rentang usia 1-5 tahun.
Dilaporkan juga angka kematian tertingginya di kondisi gagal ginjal akut stadium 3.
"Memang bisa stadium 3 itu bisa kita obati, (syaratnya) apabila belum betul-betul menjadi stadium yang sangat berat," ujar dr. Syahril.***

Share this article
Update penanganan gagal ginjal akut disampaikan oleh dr. Syahril selaku Juru Bicara Kemenkes dalam Konferensi Pers.