AYOJAKARTA.COM - Kabar mengenai gempa megathrust dan tsunami 34 meter yang berpotensi terjadi di wilayah Indonesia makin santer beredar.
Namun informasi tersebut bukanlah kabar burung semata namun memang berdasarkan hasil penelitian yang terus dilakukan oleh para ahli beberapa waktu terakhir.
Masyarakat juga dihimbau untuk tidak perlu cemas terkait informasi mengenai akan terjadinya gempa megathrust dan tsunami 34 meter tersebut.
Baca Juga: Sesar Naik Flores Sebabkan Gempa Bumi Bali dan Beberapa Kali jadi Sumber Gempa Mematikan
Maka dari itu, masyarakat diminta cermat untuk mencari informasi yang akurat berdasarkan penuturan dari pakar atau ahli langsung mengenai gempa megathrust dan tsunami 34 meter tersebut.
Agar terhindar dari kabar yang sifatnya hoax dan semakin menimbulkan kepanikan dalam masyarakat.
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal Youtube Tv One News pada Kamis (15/12/2022), Heri Andreas selaku Peneliti Geodesi ITB menuturkan perihal gempa megathrust yang berpotensi tsunami 34 meter tersebut.
Baca Juga: Sesar Baribis Aktif Didasarkan dari Alat Deteksi Gempa, Ahli: Takutnya Sedang Mengakumulasi Energi
Mengenai kapan waktu pasti gempa megathrust yang berpotensi tsunami 34 meter tersebut akan terjadi, Heri Andreas mengatakan seperti berikut.
“Kalau bicara kapan pastinya, belum ada peneliti yang bisa menentukan sampai dengan hari apalagi jamnya itu tidak ada, tetapi dikenal siklus gempa bumi dimana gempa bisa berulang,” ujar Heri Andreas.
Namun berdasarkan data penelitian, tahun 2022 ini merupakan waktu dimana siklus pengulangan gempa sedang terjadi.
Baca Juga: Gempa Bumi di Bali Magnitudo 5,2, Mana Saja Wilayah yang Terdampak? Simak Selengkapnya di Sini
“Dari hasil penelitian, disekitar 1400an itu ada rangkaian gempa bumi dan tsunami, 200 tahun berikutnya 1600an itu juga ada catatan gempa bumi dan tsunami, 200 tahun berikutnya di 1800an ada juga rangkaian gempa bumi dan tsunami. Jadi polanya itu per 200 tahunan itu jelas,” ungkap Heri Andreas.
“Ini artinya ditahun 2000an, sekarang 2022 kita sedang berada diujung siklus pengulangan gempa-gempa besar dan tsunami,” imbuhnya.
Heri Andreas juga menjelaskan jika rentang waktu 40 tahun ke depan seharusnya gempa dan tsunami kembali terjadi berdasarkan siklus tersebut.
Baca Juga: Sejarah Gempa Merusak di Karangasem Bali, Terjadi Sejak Tahun 1963 dengan Magnitudo 5,9
Untuk wilayah zona gempa megathrust yang berpotensi tsunami 34 meter berada di mana saja, Heri Andreas menuturkan hal berikut.
“Tentunya di daerah lain bisa terjadi ya tetapi kalau khusus ke segmen megathrust Jawa Sumatera, nah ini jadi sekarang yang sedang menunggu selatan Jawa Barat, Banten sampai 40 tahun ke depan,” jelas Peneliti Geodesi ITB tersebut.
“Termasuk selatan Padang sudah menunggu, kemudian Parangtritis sama sedang menunggu karena ini energinya juga bisa 9 di sini,” imbuh Heri Andreas sambil menunjukkan zona megathrust melalui komputer.
Baca Juga: Pengertian Gempa Megathrust dan Sejarahnya di Pulau Jawa: Ternyata Sudah Terjadi Berulang Kali!
Selain Jawa dan Sumatera, Heri mengatakan bahwa Pulau Bali juga termasuk dalam zona megathrust.
“Nah kemudian Bali juga ya sebenarnya besar tapi ya sensitive lah di sini,” ungkapnya.
Lebih lanjut Heri menjelaskan kemungkinan wilayah dan alur terjadinya zona megathrust adalah seperti berikut.
“Jadi bisa di selatan Jawa Barat, Banten dulu habis itu ke Parangtritis habis itu ke Padang atau Padang dulu habis itu ke selatan Jawa Barat, Banten baru ke Parangtritis bisa itu acak ya kita tidak bisa memprediksi,” pungkasnya.***

Share this article
Simak baik-baik, peneliti geodesi beberkan wilayah dan alut terjadinya gempa megathrust dan tsunami 34 meter, mana saja?