AYOJAKARTA.COM--Kasus pembunuhan terhadap Brigadir J dengan terdakwa Putri Candrawathi masih saja berlangsung dan belum menemui titik terang hingga saat ini.
Belum lama ini, Pakar Mikro Ekspresi, Monica Kumalasari mengungkapkan pendapatnya tentang Putri Candrawathi yang selalu menangis ketika menceritakan dugaan pelecehan seksual.
Monika menjelaskan bahwa berbagai macam ekspresi akan muncul dari seseorang yang telah mengalami dan merasakan pengalaman yang traumatis.
Berkaitan dengan kasus pembunuhan terhadap Brigadir J, Monica memberi penjelasan bahwa Putri Candrawathi tidak menunjukkan sosok yang telah mendapati pengalaman traumatis.
Ia menyampaikan selama pengamatannya, tidak ada perubahan gestur yang terlihat dari Putri Candrawathi sejak awal kasus hingga saat ini.
"Yang terlihat pada ibu Putri ini tidak ada perubahan gestur, mulai dari awal sampai dengan selama persidangan ini," kata Monica dikutip AyoJakarta dari tayangan KOMPAS TV, (17/12/2022).
Putri Candrawathi disebut tidak menunjukkan sebagai seorang sosok yang telah mendapati trauma, khususnya akibat pelecehan seksual yang telah ia ceritakan sebelumnya.
Hal ini terlihat dari beberapa aspek yang terlihat dalam dirinya ketika membicarakan pengalaman buruknya.
Monika kemudian menjelaskan, bahwa Putri Candrawathi tidak mengungkap detail kejadian pelecehan seksual yang dialaminya.
Lalu, ia menjelaskan bahwa detail pelecehan yang dimaksud itu termasuk ke dalam tipe memori yang disebut dengan episodic memory.
Sayangnya, Putri Candrawathi tidak menjelaskan detail episodic memory dari kejadian pelecehan seksual tersebut.
"Beliau tidak bisa menceritakan secara detail bahkan ketika detail diceritakan maka emosinya juga akan keluar. Tetapi yang ada adalah justru keluar dari detail tersebut," jelas Monica.
Anehnya, Putri Candrawathi malah menceritakan hal-hal yang berada di luar episodic memory tetapi mengatakan hal tersebut sebagai trauma.
Monica kemudian menyampaikan bahwa tanda seseorang memiliki trauma adalah tidak dalam kendali atau tidak memiliki kontrol untuk mengatakan bahwa hal tersebut adalah sebuah trauma.
Dalam keterangannya, seseorang yang memiliki trauma biasanya cenderung memberikan respon melalui bahasa non-verbal.
Berbeda halnya dengan Putri Candrawathi, ia malah menggunakan bahasa verbal yang tidak sesuai dengan ciri-ciri seseorang yang mengalami trauma.
"Karena anda tidak tahu bagaimana rasanya orang mengalami hal yang traumatik gitu ya. Jadi responnya adalah melalui bahasa non-verbal dan bukan melalui bahasa verbal seperti yang Putri sampaikan di persidangan," tuturnya.
"Beliau bukan menjadi korban dari kondisi tersebut, tetapi justru malah pihak eksternal yang menilai kondisi tersebut," ujarnya.
Pernyataan dari Putri Candrawathi ini kemudian dianggap sebagai penggiringan opini bahwa dia mengalami trauma.
Pasalnya, ia mengatakan bahwa Brigadir J telah melakukan pelecehan seksual terhadapnya tanpa memberkan detail jelas dari kejadiannya.

Share this article
Simak penjelasan pakar mikro ekspresi yang membeberkan siasat licik Putri Candrawathi hingga menyingung opini trauma